“Saya datang langsung ke lokasi. Masih banyak aktivitas dan ompreng di sana. Dari situ saya menduga yang berhubungan dengan saya bukan pihak dapurnya, melainkan hanya perantara atau calo,” kata Imam.
Meski demikian, ia tidak menuding pengelola dapur MBG terlibat. Ia mengakui tidak punya bukti bahwa Effendi benar-benar perwakilan resmi dapur tersebut.
Dalam kebingungan, Imam membagikan pengalamannya di media sosial Threads. Unggahan itu viral. Banyak warganet yang ikut membantu.
Baca Juga:Kebakaran Capai 176 Hektare, Seluruh Pintu Masuk Gunung Bromo Ditutup Total Mulai Sabtu MalamDisdamkarmat Garut Tangani 7 Titik Kebakaran Lahan dalam Sehari, Mayoritas Dipicu Sisa Pembakaran Sampah
Ada yang membeli pisang untuk kebutuhan pribadi, ada pula yang meminta agar sebagian disumbangkan ke panti asuhan. Imam juga membawa sisa stok ke sejumlah kantor di Bandar Lampung dan menjualnya secara eceran.
“Alhamdulillah setelah saya posting di Threads banyak yang membantu. Ada yang beli, ada juga yang minta disumbangkan ke panti asuhan. Sisanya saya antar sendiri ke kantor-kantor sampai akhirnya habis,” ceritanya.
Imam mengakui kejadian ini menjadi evaluasi besar bagi dirinya. Selama ini ia terbiasa memasok ke dapur-dapur tanpa masalah. Kali ini ia lalai tidak meminta uang muka (down payment) dan tidak mengecek identitas pemesan secara mendalam.
Ia juga mendapat informasi dari warganet bahwa seseorang dengan nama serupa diduga pernah membatalkan pesanan besar ke pedagang lain, meski informasi itu belum terverifikasi.
Pengalaman pahit ini menjadi pelajaran penting baginya untuk mempertimbangkan pesanan bernilai besar dari orang yang belum dikenal, pemeriksaan identitas dan uang muka sangat diperlukan agar risiko kerugian bisa diminimalisir.
Kasus ini sekaligus menyoroti kerentanan pedagang komoditas mudah rusak dalam rantai pasok program pemerintah. Di satu sisi, program MBG membuka peluang pasar bagi pelaku usaha kecil.
Di sisi lain, tanpa mekanisme yang jelas dan verifikasi yang ketat, pedagang seperti Imam tetap berada di posisi yang rentan. Semoga pengalaman ini menjadi peringatan bagi para pedagang lain agar lebih waspada.(*)
