GARUT – Untuk menekan dampak musim kemarau terhadap sektor pertanian, Dinas Pertanian Kabupaten Garut mulai membangun irigasi perpompaan di sejumlah wilayah. Langkah ini menjadi solusi setelah sekitar 320 hektare sawah tercatat terancam kekeringan akibat terbatasnya pasokan air irigasi.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Ardhy Firdian, mengatakan wilayah yang terdampak paling banyak berada di Kecamatan Cibatu dan Selaawi.
Sementara itu, sejumlah wilayah di Garut bagian selatan juga masih berpotensi mengalami kondisi serupa apabila musim kemarau terus berlanjut.
Baca Juga:Ketersediaan Bed Rawat Inap di Garut Baru 1.200, Kebutuhan Capai 2.700Perjalanan Kereta Api Kembali Normal, KAI Daop 2 Bandung Pastikan Tidak Ada Kerusakan Apapun
“Hingga 30 Juli, luas lahan yang terancam kekeringan sekitar 320 hektare. Yang paling banyak berada di Cibatu dan Selaawi, sedangkan wilayah selatan juga masih terancam,” kata Ardhy.
Ia menjelaskan, kekeringan terjadi karena pasokan air irigasi tidak mampu menjangkau seluruh area persawahan.
Akibatnya, tanaman padi di sejumlah lokasi mengalami kekurangan air sehingga pertumbuhannya terganggu.
“Banyak sawah yang sudah ditanami, tetapi airnya tidak cukup atau tidak sampai ke lokasi sawah tersebut,” jelasnya.
Dari total lahan yang terdampak, Dinas Pertanian mencatat sekitar 15 hektare sawah mengalami gagal panen. Lahan tersebut juga berada di wilayah Cibatu dan Selaawi.
Menurut Ardhy, pihaknya telah melakukan asesmen ke sejumlah lokasi terdampak untuk mengidentifikasi penyebab dan menentukan langkah penanganan.
Hasil asesmen menunjukkan persoalan utama yang dihadapi petani adalah terbatasnya sumber air selama musim kemarau.
Baca Juga:Pasca Gempa Pangandaran, KAI Daop 2 Lakukan Pemeriksaan Menyeluruh Jalur KeretaAudiensi Diwarnai Aksi Buka Baju, Salah Seorang Anggota BPD Garut Nyatakan Mundur
“Kendala utamanya adalah ketersediaan sumber air. Di Selaawi bahkan ada sawah yang bagian atasnya masih hijau, tetapi bagian bawahnya sudah kering karena air tidak cukup atau tidak sampai ke lahan di bawah,” Imbuhnya.
Sebagai upaya penanganan, Dinas Pertanian mulai mengintervensi sejumlah wilayah terdampak dengan membangun titik-titik irigasi perpompaan.
Program tersebut diharapkan mampu membantu mengalirkan air ke lahan pertanian yang sulit dijangkau saluran irigasi konvensional.
“Kami sudah mulai membangun beberapa titik irigasi perpompaan di lokasi-lokasi yang mengalami kekeringan agar pasokan air ke sawah dapat terpenuhi dan dampak terhadap produksi pertanian bisa ditekan,” pungkasnya. (Ale)
