Kasus Kebakaran di Garut Capai 227 Kejadian, Bulan Juli Paling Parah

Kebakaran Lahan di Desa Rancabango, Garut. (Istimewa)
Kebakaran Lahan di Desa Rancabango, Garut. (Istimewa)
0 Komentar

GARUT – Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Garut mencatat sebanyak 227 peristiwa kebakaran terjadi di wilayah Kabupaten Garut sepanjang bulan Januari hingga akhir Juli 2026.

Dari jumlah tersebut, bulan Juli menjadi periode dengan angka kejadian tertinggi, yakni mencapai 90 kasus.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Garut, Usep Basuki Eko, mengatakan mayoritas kejadian pada bulan Juli merupakan kebakaran lahan.

Baca Juga:Sistem Absensi ASN Dinilai Belum Efektif, Bupati Minta Segera DiperbaikiBaso Aci Diusulkan Jadi Warisan Warisan Budaya Takbenda

Dari total 90 kejadian, 63 kasus diantaranya merupakan kebakaran lahan, sementara sisanya merupakan kebakaran bangunan dan objek lainnya.

“Pada bulan Juli tercatat ada 90 kejadian kebakaran. Artinya, rata-rata terjadi sekitar satu kejadian setiap hari. Dari jumlah tersebut, sebagian besar merupakan kebakaran lahan,” ujar Eko Selasa 28 Juli 2026.

Ia menjelaskan, wilayah Garut bagian selatan menjadi daerah yang paling sering mengalami kebakaran lahan, dengan Kecamatan Pameungpeuk termasuk salah satu wilayah yang paling banyak terdampak.

Menurutnya, penanganan kebakaran lahan memiliki tantangan tersendiri karena banyak lokasi yang sulit dijangkau oleh armada pemadam kebakaran.

Oleh sebab itu, Damkar Garut terus berkoordinasi dengan unsur kewilayahan untuk mempercepat penanganan di lapangan.

Eko mengungkapkan, secara koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berada di bawah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Dalam pelaksanaannya, BPBD berperan sebagai koordinator dengan menggerakan berbagai unsur, termasuk masyarakat.

Baca Juga:Festival Layang-layang Diproyeksikan Tarik Lebih dari 20 Ribu PengunjungPemkab Garut Percepat Pembentukan Forum TJSLP untuk Optimalkan Dana CSR

“Kalau kebakaran lahan, koordinasinya memang berada di BPBD. Kami berkolaborasi dengan berbagai pihak karena banyak lokasi yang tidak bisa dijangkau langsung oleh unit pemadam,” katanya.

Ia menambahkan, penanganan kebakaran bangunan berbeda dengan kebakaran lahan. Untuk kebakaran gedung atau permukiman, Damkar menjadi garda terdepan.

Sementara pada kebakaran lahan, penanganan dilakukan secara terpadu bersama instansi lain, termasuk TNI.

Salah satu contoh kolaborasi tersebut dilakukan saat menangani kebakaran lahan di kawasan Condong yang sempat menjadi perhatian karena cukup luas. Dalam proses pemadaman, Damkar bekerja sama dengan personel Batalyon TNI untuk mempercepat pengendalian api.

Untuk jumlah kejadian kebakaran yang tidak tertangani pada periode Januari – Juli 2026 sebanyak 12 kejadian, dengan jumlah tertinggi terjadi pada bulan Januari sebanyak 5 kejadian.

Selanjutnya, terdapat 3 kejadian pada Maret, 3 kejadian pada Februari, serta masing-masing 1 kejadian pada Juni dan Juli. (Ale)

0 Komentar