RADARGARUT– Insiden dugaan keracunan massal kembali menimpa peserta program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Lebih dari 100 siswa dan santri di Kecamatan Cibatu mengalami gejala mual, muntah, diare, dan keluhan pencernaan lainnya setelah mengonsumsi menu MBG pada Selasa, 21 Juli 2026.
Kejadian ini menjadi sorotan publik karena program MBG yang digagas pemerintah bertujuan menyediakan nutrisi berkualitas bagi pelajar, namun justru memicu kekhawatiran akan keamanan pangannya.
Baca Juga:Samsung Galaxy Z Fold 8 Series Resmi Debut: Tipis, Powerful, dan Siap Revolusi Pengalaman Foldable!Garut Diselimuti Dingin Ekstrem: Suhu Turun hingga 10-13°C, BMKG Prediksi Berlanjut hingga Akhir Juli 2026
Menurut informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, korban berasal dari beberapa lembaga pendidikan di wilayah tersebut, termasuk Pondok Pesantren Al Mansuriah, PAUD Al-Mukhtar, SDN 1 Sukanagara, dan SDN 4 Sukanagara.
Menu yang dikonsumsi terdiri dari nasi putih, telur (dibumbui rendang), tempe asam manis, sayur sop, serta susu. Beberapa siswa mengonsumsi makanan tersebut langsung di sekolah, sementara yang lain membawanya pulang dan memakannya di rumah.
Gejala mulai muncul pada malam hari hingga Rabu, 22 Juli 2026 sore, sehingga puluhan pelajar berbondong-bondong mendatangi Puskesmas Cibatu.
Bupati Garut Abdusy Syakur Amin membenarkan jumlah korban telah mencapai lebih dari 100 orang per Kamis, 23 Juli 2026 siang.
“Sudah 100 lebih,” ujarnya saat dikonfirmasi media. Pemerintah daerah langsung bergerak cepat dengan menggelar rapat koordinasi antar-perangkat daerah.
Fokus utama adalah penanganan medis di Puskesmas Cibatu dan pendataan korban tambahan. Sekretaris Daerah Kabupaten Garut, Nurdin Yana, menjelaskan bahwa seluruh pasien ditangani secara intensif di fasilitas kesehatan setempat. Pemerintah juga menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada para korban pada sore hari yang sama.
Salah seorang korban, Ahmad, menceritakan pengalamannya. Ia mengalami diare dan muntah berulang setelah adiknya membawa pulang menu MBG.
Baca Juga:Api Lahap Gudang Produksi Kusen Kayu Di Bayongbong Garut, Kerugian Ditaksir Ratusan Juta RupiahAnti Ribet, Naik Kereta Kini Tinggal Setor Muka!
Awalnya ia mengira hanya gangguan lambung biasa, tetapi setelah mengetahui banyak orang mengalami hal serupa, ia menduga ada kaitannya dengan makanan tersebut. Menurutnya, saat dimakan, makanan tidak terlihat basi atau memiliki rasa yang aneh.
Dinas Kesehatan Kabupaten Garut telah mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium guna menentukan penyebab pasti. Hingga berita ini ditulis, penyelidikan masih berlangsung.
Dapur MBG di lokasi kejadian pun dihentikan sementara operasionalnya untuk mencegah kasus serupa. Bupati Syakur meminta Badan Gizi Nasional (BGN) memperketat pengawasan.
