Kasus DBD di Garut Turun Tajam, dari 58 Menjadi Tiga Kasus

Kadinkes Garut, Leli Yuliani
Kadinkes Garut, Leli Yuliani
0 Komentar

GARUT – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Garut mencatat penurunan kasus demam berdarah dengue (DBD) dalam tiga pekan terakhir. Jumlah kasus baru yang sebelumnya sempat mencapai 57 hingga 58 kasus per minggu kini turun menjadi tiga kasus pada pekan terakhir pencatatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Leli Yuliani, mengungkapkan penurunan kasus tersebut menjadi kabar baik di tengah berbagai upaya pengendalian DBD yang dilakukan pemerintah daerah bersama masyarakat.

Data Dinkes menunjukkan jumlah kasus baru menurun secara bertahap dalam tiga pekan terakhir. Kasus DBD tercatat sebanyak 12 kasus, kemudian turun menjadi 10 kasus, dan kembali berkurang menjadi tiga kasus dalam sepekan.

Baca Juga:KONI Garut Targetkan Atletik Raih 5 hingga 6 Emas di Porprov Jabar 2026Korsleting Listrik Diduga Picu Kebakaran Rumah di Sucinaraja, Kerugian Ditaksir Rp50 Juta

“Alhamdulillah, dalam tiga minggu terakhir jumlah kasus terus menurun, dari 12 kasus, kemudian 10 kasus, dan pekan terakhir tinggal tiga kasus. Sebelumnya sempat mencapai 57 hingga 58 kasus per minggu,” ungkapnya, kemarin.

Meski jumlah kasus baru menunjukkan tren penurunan, DBD masih perlu diwaspadai karena telah mengakibatkan korban jiwa. Sejak Januari hingga pertengahan Juli 2026, sebanyak lima orang dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes tersebut.

Masyarakat tetap diminta melakukan langkah pencegahan dengan menjaga kebersihan lingkungan dan memberantas tempat yang berpotensi menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk. Wadah penampungan air juga perlu diperiksa dan dibersihkan secara berkala meskipun Garut mulai memasuki musim kemarau.

Selain DBD, Dinkes mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai sejumlah penyakit yang cenderung muncul atau meningkat selama cuaca panas dan kering.

Leli menambahkan, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi salah satu gangguan kesehatan yang sering ditemukan pada musim kemarau. Kondisi udara yang kering dan banyaknya debu dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan.

Masyarakat juga rentan mengalami penyakit kulit akibat kondisi kulit yang lebih kering. Risiko dehidrasi dan diare turut meningkat apabila kebutuhan cairan tidak tercukupi serta makanan dan minuman tidak dijaga kebersihannya.

“Yang paling sering ditemukan di musim kemarau adalah infeksi saluran pernapasan, kemudian penyakit kulit seperti gatal-gatal karena kulit menjadi kering. Selain itu masyarakat juga harus waspada terhadap dehidrasi dan diare karena makanan lebih mudah terkontaminasi debu,” tambahnya.

0 Komentar