Yayasan Bakti Barito Sulap 15 Ton Sampah Jadi Ruang Kelas Baru di SDN 3 Sukanegla

Radar Garut
Yayasan Bakti Barito Sulap 15 Ton Sampah Jadi Ruang Kelas Baru di SDN 3 Sukanegla
0 Komentar

GARUT – Yayasan Bakti Barito memulai pembangunan dua Ruang Kelas Baru (RKB) dan dua unit toilet di SDN 3 Sukanegla, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, melalui seremoni peletakan batu pertama yang digelar Kamis (11/6/2026).

Pembangunan tersebut menjadi bentuk dukungan Yayasan Bakti Barito terhadap dunia pendidikan di Kabupaten Garut. Menariknya, material bata yang digunakan berasal dari hasil daur ulang sampah residu yang selama ini menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Direktur Bakti Barito, Diah Purbasari mengatakan bahwa bata daur ulang tersebut memiliki karakteristik serupa dengan bata konvensional, namun diharapkan lebih ramah lingkungan dan tahan terhadap gempa.

Baca Juga:PLTGU Jawa Satu Pastikan Operasional Andal, Dua Unit Kini Beroperasi NormalPT Jawa Satu Power Pastikan Operasional PLTGU Jawa-1 Berjalan Normal

“Selain harganya terjangkau, kami berharap material ini juga lebih kuat terhadap gempa dengan konstruksi yang telah disempurnakan. Harapannya bisa dimanfaatkan secara luas, baik untuk sekolah maupun perumahan,” kata Diah.

Ia menjelaskan, Garut dipilih sebagai lokasi pembangunan karena dinilai memiliki komitmen kuat dalam pengelolaan sampah, khususnya melalui inovasi di sektor hilir.

“Para pimpinan SKPD di Garut memiliki visi yang jauh terhadap pengendalian sampah yang belum terkelola dengan baik,” jelasnya.

Menurut Diah, pemanfaatan bata daur ulang baru diterapkan di Garut karena daerah ini dinilai membutuhkan tambahan ruang kelas sekaligus inovasi pengelolaan sampah.

Ia menyebut, meski pabrik pengolahan bata berada di Cirebon, bahan baku sampah berasal dari Kabupaten Garut. Untuk pembangunan dua ruang kelas dan dua toilet tersebut, sedikitnya 15 ton sampah residu berhasil dimanfaatkan.

“Sampah yang digunakan adalah sampah yang tidak memiliki nilai ekonomi dan biasanya tidak diambil pemulung. Sampah jenis ini justru paling banyak menumpuk di TPA,” sebutnya.

Sementara, Kepala SDN 3 Sukanegla, Fitri Firdaus memastikan bangunan yang menggunakan bata daur ulang tetap aman dan nyaman bagi siswa.

Baca Juga:3 Sekawan Percuranmoran Asal Cipatujah Dibekuk PolisiDPRD Garut Soroti Keterlambatan Gaji Guru P3K Paruh Waktu

“Kami terus memastikan aspek keamanan dan keselamatan bagi siswa. Dari hasil dokumentasi dan demonstrasi yang ditunjukkan konsultan, material ini tidak membahayakan,” katanya.

Fitri mengungkapkan, pembangunan ruang kelas baru sangat dibutuhkan karena jumlah siswa terus bertambah setiap tahun.

0 Komentar