Musim Kemarau Jadi Ancaman Di Jawa Barat, Siap-Siap Harga Sayur Naik Drastis!

komoditi sayuran di pasar Guntur Ciawitali
komoditi sayuran di pasar Guntur Ciawitali (Rizka/Radar Garut)
0 Komentar

RADARGARUT– Ancaman kemarau panjang akibat fenomena El Niño berpotensi mengganggu produksi pertanian di Jawa Barat. Hal ini dikhawatirkan memicu kenaikan harga berbagai komoditas pangan dalam beberapa bulan mendatang.

Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi, menekankan pentingnya langkah antisipasi dari pemerintah daerah untuk menjaga kestabilan pasokan pangan di tengah risiko kekeringan yang semakin tinggi.

Dilansir dari beberapa sumber menurut Acuviarta, sektor pertanian sangat rentan terhadap kekurangan air, sehingga antisipasi harus dilakukan sejak dini dari sisi produksi.

Baca Juga:Pemerintah Pastikan Tarif Iuran BPJS Tidak Berubah Walaupun Rupiah MelemahBGN Resmi Terapkan Moratorium SPPG

“Pertama dari sisi produksi memang harus ada antisipasi. Pengaturan terkait pengairan karena ancamannya kekeringan dan ujungnya bisa gagal panen,” ujarnya.

Antisipasi Produksi dan Kerja Sama Antar Daerah

Acuviarta menambahkan bahwa meskipun kemarau El Niño merupakan siklus yang berulang, dampaknya terhadap komoditas pangan tetap harus diwaspadai, terutama pada tanaman yang sensitif terhadap cuaca. Pemerintah daerah diminta memastikan pengelolaan irigasi di lahan pertanian berjalan optimal untuk mencegah gagal panen.

Selain itu, kerja sama antar daerah dinilai sangat penting. Karena intensitas El Niño tidak merata di seluruh wilayah, daerah yang masih memiliki produksi stabil dapat membantu memasok daerah yang mengalami kekurangan.

“Kerja sama daerah ini bisa memperbaiki pasokan dan distribusi yang terdampak,” katanya.

Komoditas yang Berisiko Naik Harga

Acuviarta memprediksi beberapa komoditas hortikultura berpotensi mengalami kenaikan harga, antara lain:

Bawang merah: Sudah menunjukkan kenaikan harga sejak Mei 2026. Pemerintah disarankan menyiapkan opsi impor jika produksi dalam negeri terganggu signifikan.

Cabai merah: Pada Mei lalu menjadi kontributor inflasi terbesar di Jawa Barat. Komoditas ini sangat rentan karena siklus produksinya yang pendek.

Baca Juga:Honda NWF 150 2026 Resmi Rilis: Skutik Retro Baru Dengan Fitur Blind SpotJawa Barat Masuk 3 Besar Provinsi dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi di Indonesia

Inflasi Jawa Barat pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,24 persen (month to month), sementara inflasi tahunan mencapai 3,07 persen, naik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ancaman dari Komoditas Impor

Selain hortikultura, harga kedelai juga berpotensi naik akibat ketergantungan impor yang sangat tinggi (lebih dari 70 persen). Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS semakin menekan biaya impor, yang pada akhirnya dapat memengaruhi harga tahu dan tempe.

0 Komentar