RADARGARUT– Di tengah ramainya aktivitas masyarakat di kawasan Alun-alun Garut, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang hingga kini masih menjadi ikon kota, yakni Babancong.
Bangunan kecil berbentuk panggung yang berada tepat di depan Pendopo Garut itu bukan sekadar peninggalan kolonial, tetapi juga dianggap sebagai saksi tumbuhnya komunikasi publik dan kesadaran masyarakat pada masa awal kebangkitan nasional di Priangan.
Momentum Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang diperingati setiap 20 Mei kembali mengingatkan masyarakat terhadap pentingnya menjaga warisan sejarah lokal, termasuk keberadaan Babancong dan Pendopo Garut yang telah berdiri sejak awal abad ke-19.
Baca Juga:Sepak Terjang Abeng, Jurnalis Republika yang Diculik Tentara Zionis Israel Demi Misi KemanusiaanEks Ketua BEM UGM 2026 Minta Pendukung 02 Minta Maaf dan Tulis Pernyataan Penyesalan
Berdasarkan catatan sejarah, Babancong dibangun sekitar tahun 1813 bersamaan dengan Pendopo Garut, Masjid Agung, dan kawasan alun-alun ketika pusat pemerintahan Kabupaten Limbangan dipindahkan ke wilayah yang kini menjadi Kota Garut.
Dalam sejarahnya, Babancong digunakan sebagai tempat pejabat pemerintah menyampaikan pidato, pengumuman, hingga menyaksikan pertunjukan masyarakat. Bangunan itu menjadi salah satu ruang komunikasi antara penguasa dan warga pada masa kolonial Hindia Belanda.
Ahli sejarah dan kepurbakalaan Garut, Drs. Warjita, menyebut Pendopo dan Babancong merupakan bagian penting dari lahirnya pusat pemerintahan Garut modern.
“Pendopo ini sudah ada bahkan sebelum nama Garut muncul secara resmi. Tepatnya sejak Raffles memindahkan pusat pemerintahan ke kawasan ini. Saat itu, dibangun pula masjid agung dan babancong sebagai pelengkap pusat pemerintahan,” ujarnya.
Perkembangan pusat pemerintahan, pendidikan, dan infrastruktur di Garut pada masa itu turut membawa perubahan sosial di masyarakat Priangan.
Kesadaran mengenai pentingnya pendidikan dan identitas kebangsaan mulai tumbuh di kalangan pribumi, terutama setelah munculnya organisasi Boedi Oetomo pada 1908 yang menjadi tonggak Hari Kebangkitan Nasional.
Sejumlah budayawan Sunda menilai semangat kebangkitan nasional tidak hanya lahir di kota-kota besar seperti Batavia, tetapi juga menyebar ke daerah melalui ruang-ruang publik dan pusat pemerintahan lokal seperti Babancong.
Baca Juga:Rekomendasi Cafe Nobar Persib di Garut: Seru Dukung Maung Bandung Sambil Ngopi Enak!Viral! Turis Malaysia Dituduh Kabur Tanpa Bayar Usai Makan di Pagi Sore
Selain memiliki nilai sejarah, Babancong juga dikenal karena bentuk arsitekturnya yang unik. Bangunan tersebut memiliki delapan tiang penyangga dan atap menyerupai payung geulis khas Sunda. Hingga kini, Babancong masih berdiri di sisi selatan Alun-alun Garut dan menjadi salah satu simbol budaya daerah.
