“Belum Magetan, Yogya, dan pabrik-pabrik lain. Ini potensi besar dan bisa menutupi 99 persen kimia impor,” katanya.
Ia mengatakan selama ini industri kulit nasional masih sangat bergantung pada bahan kimia impor yang harganya terus meningkat.
“Dengan situasi sekarang kimia impor naik sampai 30 persen, bahkan per tanggal 1 kemarin naik lagi lima persen. Jadi naiknya sedikit-sedikit terus,” ungkapnya.
Baca Juga:324 Jembatan di Garut Diajukan ke Pusat, Tiga Titik Sudah Direspons Untuk Segera DiperbaikiYudha Puja Turnawan Tinjau Rumah Janda Lansia Korban Kebakaran di Karangpawitan
Sukandar juga menyoroti keunggulan enzim lokal dari sisi kehalalan produk. Ia mengaku sebelumnya sempat mengalami kesulitan saat mengurus sertifikasi halal karena enzim impor yang digunakan berasal dari bahan yang tidak jelas asal-usulnya.
“Enzim dari luar negeri itu banyak dibuat dari pankreas babi. Waktu saya membuat sertifikat halal, auditor mengejar soal enzimnya. Mereka tidak mau mengeluarkan data bahan bakunya dibuat dari apa,” katanya.
Menurutnya, penggunaan enzim lokal kini membantu sebagian pelaku usaha kulit di Sukaregang memperoleh sertifikat halal.
Selain itu, penggunaan enzim dinilai lebih ramah lingkungan karena mampu menekan penggunaan bahan kimia seperti Na2S dan kapur dalam proses penyamakan kulit.
“Buangan limbahnya jadi bisa ditekan dengan enzim ini,” ujarnya.
Respon pelaku usaha terhadap pengembangan enzim lokal pun disebut sangat positif. Dari 25 pelaku usaha yang diundang dalam kegiatan sosialisasi, sekitar 20 hadir dan bahkan ada pengusaha yang langsung melakukan pemesanan.
“Ada yang tidak hadir tapi langsung PO 60 kilogram. Untuk langkah pertama ini sudah bagus,” katanya.
Baca Juga:Ardi Ramdani Ukir Sejarah, Atlet Sepak Bola Asal Garut Tembus Super League IndonesiaPepohonan Menjuntai Dibabat, Akses Jalan Desa di Cibiuk Garut Kembali Lancar
Di sisi lain, kalangan akademisi mulai mengambil peran dalam pengembangan riset lanjutan terkait industri kulit ramah lingkungan.
Dosen Prodi S1 Kimia FMIPA Universitas Garut, Nenden Fauziah mengatakan pihaknya akan melibatkan mahasiswa dalam pengembangan riset enzim dan penanganan limbah industri kulit.
“Kami akan mengirim mahasiswa untuk mengembangkan riset ini. Selain kebutuhan industri, enzim ini juga diharapkan mampu mereduksi dampak lingkungan dari pengolahan kulit di Sukaregang,” ujarnya.
Ia berharap kolaborasi tersebut dapat berkembang menjadi pembangunan Science Techno Park berbasis industri kulit di Garut. “Garut memiliki sejarah panjang dalam pengolahan kulit.
