BRIN Dorong Enzim Lokal untuk Industri Kulit Garut, Tekan Ketergantungan Kimia Impor dan Dampak Limbah

Rizki/Radar Garut
Sosialisasi dan Edukasi produk Inovasi Enzim lokal Berdampak Global yang dilaksanakan di Kampus 4 Universitas Garut. (Rizki/Radar Garut)
0 Komentar

Ia menjelaskan, potensi kebutuhan enzim untuk industri kulit di Garut sangat besar. Bahkan, hanya satu pabrik berskala besar saja dapat membutuhkan hingga lima ton enzim per bulan.

“Belum lagi UMKM yang cukup banyak di Garut. Potensinya sangat besar,” katanya.

Fathoni menyebut kegiatan kolaborasi yang dilakukan saat ini dapat menjadi role model sinergi antara lembaga riset, perguruan tinggi, dan industri.

Baca Juga:324 Jembatan di Garut Diajukan ke Pusat, Tiga Titik Sudah Direspons Untuk Segera DiperbaikiYudha Puja Turnawan Tinjau Rumah Janda Lansia Korban Kebakaran di Karangpawitan

Menurutnya, hasil riset tidak boleh berhenti di laboratorium, melainkan harus dimanfaatkan dan diproduksi secara nyata oleh pelaku usaha.

“Kegiatan hari ini bisa menjadikan role model. Sinergi kolaborasi antara lembaga riset, kampus, dan industri ini ideal karena hasil risetnya kemudian bisa dimanfaatkan dan diproduksi oleh industri pelaku usaha,” ungkapnya.

Ia menambahkan, enzim lokal yang dikembangkan merupakan produk yang sepenuhnya dibuat dan diproduksi di Indonesia sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih luas.

“Enzim lokal itu enzim yang memang kita kembangkan di Indonesia, diproduksi di Indonesia, jadi dampaknya cukup luas,” katanya.

Kemudian, direktur PT. Biokatalis Indonesia (mitra BRIN), Djoko Andi P. Prasetidja mengungkapkan bahwa keterlibatan dunia industri melalui kegiatan sosialisasi ini diyakini akan berdampak positif bagi upaya pemanfaatan hasil riset dan hilirisasi.

“Kami berterimakasih atas kesempatan dan keterlibatan PT. Biokatalis untuk mendukung sosialisasi ini. Ini akan berpengaruh pada industri kulit di Indonesia terutama di Garut, karena inovasi enzim lokal ini bahkan sesuai dengan temanya akan berdampak global khususnya industri kulit di Indonesia,” ungkap Andi.

Sementara itu, pelaku usaha kulit sekaligus perwakilan APKI Garut, Sukandar, menilai hadirnya enzim lokal menjadi penemuan yang sangat signifikan bagi industri kulit nasional.

Baca Juga:Ardi Ramdani Ukir Sejarah, Atlet Sepak Bola Asal Garut Tembus Super League IndonesiaPepohonan Menjuntai Dibabat, Akses Jalan Desa di Cibiuk Garut Kembali Lancar

Ia memaparkan bahwa Garut memiliki potensi industri kulit yang sangat besar.

“Kalau lihat potensi di Garut itu ada sekitar 54 pabrik, tapi ada juga pengusaha yang tidak punya pabrik sendiri dan menggunakan sistem sewa mesin. Kalau diakumulasi sekitar 254 pabrik,” ujarnya.

Menurutnya, jika rata-rata satu pabrik menggunakan satu ton bahan, maka kebutuhan enzim bisa mencapai sekitar 10 ton setiap dua bulan hanya untuk Garut saja.

0 Komentar