“Nanti kalau ada yang mau dibukakan penglihatannya kita coba buka. Siapa tau mau lihat teman-teman baru,” ucapnya.
Meski mengangkat tema mistis, Firman menegaskan kegiatan tersebut tetap mengedepankan unsur sejarah, edukasi, dan keselamatan peserta.
Sebelum perjalanan dimulai, peserta mendapat briefing mengenai etika selama penelusuran, termasuk bagaimana menyikapi hal-hal yang berhubungan dengan dunia gaib.
Baca Juga:Kemenkop Perkuat Transformasi Pertambangan Berbasis Koperasi di NTBSebanyak 174 Jemaah Haji Plus Petugas Asal Garut Diberangkatkan, Kemenhaj Ungkap 5 Orang Tertunda Karena Sakit
“Keamanan sangat diperhatikan. Ada pembekalan supaya tidak tersesat dan bagaimana memposisikan diri dengan teman-teman gaib itu,” katanya.
Selain menyusuri titik-titik yang dianggap aktif secara spiritual, peserta juga diajak berziarah ke area makam para bupati Garut di sekitar alun-alun kota. Menurut Firman, lokasi makam bukan untuk menakut-nakuti peserta, melainkan sebagai bagian dari penghormatan sejarah.
“Kita kirim Al-Fatihah saja. Tetap ada sejarahnya,” katanya.
Di akhir perjalanan, suasana walking tour berubah menjadi forum berbagi pengalaman. Peserta yang pernah mengalami kejadian mistis dipersilakan menceritakan pengalamannya kepada peserta lain.
Konsep wisata ini rupanya menarik perhatian peserta dari luar kota, termasuk komunitas Indighost asal Bandung yakni Adit, Zio, dan Novi.
Mereka mengaku awalnya tidak menyangka Garut memiliki banyak cerita sejarah dan sisi mistis yang menarik untuk dieksplorasi.
“Garut ternyata bukan sekadar kota dodol, tapi banyak sejarah dari zaman kolonial yang menarik untuk diungkap,” ujar Zio.
Menurut mereka, pengalaman walking tour malam itu menghadirkan sudut pandang baru tentang Garut, terutama terkait jejak kolonial dan kisah-kisah lama yang selama ini jarang diketahui publik.
Baca Juga:Dinsos Garut Ungkap Faktor Bullying dan Konsumsi Obat Terlarang Bisa Picu Gangguan JiwaAlpukat Kelud Jadi Daya Tarik Petani Garut
Peserta juga menilai wisata tersebut memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan dengan rute-rute baru yang lebih variatif dan mendalam.
“Kalau ke depannya diadakan lagi, mungkin bisa ke wilayah lain juga. Banyak lokasi yang bisa dieksplor,” kata Adit.
Selain unsur mistis, peserta juga tertarik dengan cerita sejarah yang muncul selama perjalanan, termasuk julukan Garut sebagai Swiss van Java pada masa kolonial Belanda.
“Bukan cuma Bandung yang Paris van Java. Ternyata Garut juga punya julukan Swiss van Java,” kata Zio.
