Namun, laporan tersebut tidak ditindaklanjuti secara nyata.
Pada Kamis, 30 April 2026, ia turun langsung ke lokasi dan mencoba menghubungi Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Garut, namun tidak mendapat respons.
Setelah berkoordinasi dengan Kepala Dinsos, Yudha sempat mendapat informasi bahwa tersedia tempat di rumah singgah milik Dinsos.
Namun, saat Siti dibawa ke lokasi bersama pendamping sosial dan perangkat desa, kamar khusus lansia perempuan ternyata sudah penuh.
Petugas piket pun mengaku tidak menerima instruksi untuk penanganan.
Baca Juga:Yudha Puja Turnawan Mengikuti Santunan Anak Yatim di Milad ke-4 Yayasan Peduli UmatPelaku Curanmor Babak Belur Diamuk Massa Usai Gagal Curi Pick Up di Samarang
“Ini menunjukkan buruknya koordinasi internal. Yang jadi korban lagi-lagi rakyat kecil,” katanya.
Upaya penanganan kemudian diperluas dengan menghubungi Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat.
Yudha memperoleh akses ke Satuan Pelayanan Griya Lansia Garut di Tarogong Kidul.
Namun, fasilitas tersebut juga dalam kondisi penuh, dengan jumlah penghuni melebihi kapasitas.
Tidak berhenti di situ, Yudha berkoordinasi dengan Sentra Terpadu Pangudi Luhur Bekasi, unit kerja Kementerian Sosial.
Hasilnya, masih ada peluang penanganan bagi Siti, meski harus melalui proses asesmen yang dijadwalkan pada pekan depan.
Sambil menunggu proses tersebut, Siti terpaksa kembali ke rumah kontrakannya.
Yudha menilai situasi ini sangat memprihatinkan. Ia menyoroti lambannya respons lembaga yang memiliki mandat sosial, di tengah kepedulian masyarakat yang justru bergerak lebih cepat.
Baca Juga:Budidaya Nila di Garut Kian Bergeliat Berkat Program MBGPKL Menjamur, Pemkab Garut Gencar Tertibkan Bangunan Liar Biang Kemacetan di Sejumlah Titik
Ia juga meminta Dinsos Garut dan Dinas Ketahanan Pangan segera menyalurkan bantuan kebutuhan dasar bagi Siti untuk meringankan beban warga yang selama ini membantu.
“Masih beruntung Ibu Siti punya tetangga yang peduli. Kalau tidak, mungkin nasibnya lebih tragis,” katanya.
Yudha turut menyinggung pernyataan Kepala Dinas Sosial Garut yang baru dilantik, yang sebelumnya berkomitmen mengurangi kesenjangan sosial di daerah tersebut.
Ia menegaskan bahwa komitmen tersebut harus diwujudkan melalui langkah konkret, bukan sekadar pernyataan.
“Mulailah dari hal paling sederhana: respon cepat setiap laporan pendamping sosial desa dan kelurahan. Mereka tiap hari di lapangan, tahu persis siapa warga rentan yang butuh pertolongan,” tegasnya.
Yudha berharap Dinsos Garut segera berbenah dengan meningkatkan etos kerja, profesionalisme, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah provinsi dan Kementerian Sosial.
