Rupiah Terbakar! Rekor Terburuk Sepanjang Masa Tembus Rp 17.300, Apa yang Salah dengan Ekonomi Kita?

(Istimewa)
Nilai rupiah anjlok (Istimewa)
0 Komentar

RADARGARUT– Kabar buruk kembali menyelimuti pasar keuangan tanah air. Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) terpantau terus terperosok hingga mencapai titik nadir terbarunya pada perdagangan Kamis, 30 April 2026.

Mata uang Garuda kini tak berdaya, terkapar di level terlemah sepanjang sejarah, melampaui tekanan hebat yang pernah terjadi pada masa-masa krisis sebelumnya.

​Berdasarkan data pasar spot dan referensi kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Rupiah telah menembus angka psikologis Rp 17.324 hingga Rp 17.365 per Dolar AS. Pelemahan ini bukan sekadar fluktuasi harian biasa, melainkan tren penurunan tajam sebesar 1,64% hanya dalam satu bulan terakhir.

Baca Juga:Stasiun Bekasi Timur Kembali Beroperasi: Menhub Tekankan Keselamatan Pasca TragediBelasan Perempuan Dewasa Dikonfirmasikan Jadi Korban Meninggal Dunia Dalam Tragedi KRL Bekasi Timur

Fenomena ini memicu alarm waspada di kalangan pelaku usaha, ekonom, hingga masyarakat luas.

​Badai Geopolitik dan Lonjakan Harga Minyak​Penyebab utama “pendarahan” Rupiah kali ini berasal dari kombinasi maut faktor eksternal dan internal. Di kancah global, eskalasi ketegangan di Timur Tengah menjadi motor utama.

Blokade pelabuhan di Iran yang mulai diterapkan secara penuh telah mengganggu jalur energi di Selat Hormuz, jalur yang memasok hampir 20% konsumsi minyak dunia.

​Akibatnya, harga minyak mentah melonjak tajam. Sebagai negara importir minyak bersih (net oil importer), Indonesia sangat terpukul. Kenaikan harga energi global secara otomatis membengkakkan defisit transaksi berjalan dan menekan cadangan devisa kita, yang pada akhirnya meruntuhkan fondasi nilai tukar Rupiah.

​Sentimen Domestik: “Luka” dari Dalam Negeri

​Namun, para analis sepakat bahwa pelemahan kali ini terasa lebih menyakitkan karena adanya tekanan dari dalam negeri.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebutkan bahwa absennya rilis data ekonomi domestik yang positif membuat Rupiah kehilangan tenaga untuk melawan Dolar.

​Beberapa faktor domestik yang menjadi sorotan meliputi:

Kebijakan Suku Bunga: Keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga di tengah tekanan inflasi dianggap pasar kurang agresif dalam melindungi mata uang.

Baca Juga:Harga Emas Naik Goceng! Ini Rincian Per Selasa 28 April 2026Buruan! Tiket Whoosh Diskon Gila hingga 50%, Liburan ke Bandung Makin Hemat di Mei-Juni 2026

Kritik Terhadap Kebijakan Fiskal: Sejumlah ekonom menyoroti komunikasi pemerintah yang dianggap kurang efektif kepada investor asing. Isu terkait rencana pajak baru di Selat Malaka hingga penolakan bantuan IMF di tengah kesulitan fiskal menciptakan persepsi negatif di mata pelaku pasar global.

0 Komentar