Rupiah Terbakar! Rekor Terburuk Sepanjang Masa Tembus Rp 17.300, Apa yang Salah dengan Ekonomi Kita?

(Istimewa)
Nilai rupiah anjlok (Istimewa)
0 Komentar

Beban Anggaran: Program-program pemerintah yang membutuhkan anggaran jumbo di tengah penurunan cadangan devisa memicu kekhawatiran mengenai keberlanjutan fiskal nasional (fiscal sustainability).

​Dampak Nyata bagi Masyarakat: Inflasi Mengintai

​Terpuruknya Rupiah hingga ke level Rp 17.300-an bukan hanya angka di layar monitor saham. Dampaknya akan segera dirasakan oleh masyarakat di meja makan.

Imported inflation atau inflasi barang impor menjadi ancaman nyata. Harga kedelai, gandum, elektronik, hingga onderdil kendaraan dipastikan bakal merangkak naik.

Baca Juga:Stasiun Bekasi Timur Kembali Beroperasi: Menhub Tekankan Keselamatan Pasca TragediBelasan Perempuan Dewasa Dikonfirmasikan Jadi Korban Meninggal Dunia Dalam Tragedi KRL Bekasi Timur

​Tak hanya itu, biaya logistik dan transportasi juga berpotensi membengkak. Bagi perusahaan yang memiliki utang dalam denominasi Dolar AS, pelemahan ini adalah mimpi buruk karena beban cicilan mereka akan melonjak drastis, yang bisa berujung pada efisiensi karyawan atau kenaikan harga produk akhir.

​Menanti Keajaiban dari The Fed

Kini, mata pelaku pasar tertuju pada hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) di Amerika Serikat. Jika bank sentral AS (The Fed) memberikan sinyal hawkish atau tetap mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lama demi meredam inflasi minyak, maka tekanan terhadap Rupiah diprediksi masih akan berlanjut hingga Mei 2026.

​Pemerintah dan Bank Indonesia dituntut untuk segera mengambil langkah luar biasa (extraordinary) guna menstabilkan nilai tukar. Tanpa intervensi yang kuat dan kebijakan fiskal yang lebih disiplin, bayang-bayang Rupiah yang terus melemah akan menjadi beban berat bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia di sisa tahun 2026 ini.(*)

0 Komentar