RADARGARUT– Kecelakaan kereta api yang menggemparkan terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026 pukul 20:50 WIB.
Kereta Api jarak jauh KA Argo Bromo Anggrek menabrak dari belakang sebuah rangkaian KRL Commuter Line yang sedang berhenti, hingga lokomotifnya menembus gerbong paling belakang. Tabrakan keras ini menyebabkan 7 orang meninggal dunia dan 81 orang mengalami luka-luka.
Insiden ini bermula dari peristiwa sebelumnya di perlintasan kereta api JPL 85. Sebuah taksi hijau Green SM tertemper (mogok atau terjebak) di jalur rel, sehingga menyebabkan KRL yang datang dari arah Manggarai terpaksa berhenti mendadak di area stasiun Bekasi Timur.
Baca Juga:Evakuasi Dramatis 6 Jam di Bekasi Timur: 7 Korban Perempuan Terjepit di Gerbong KRLShin Tae-yong Comeback ke Indonesia: Pelatih Legendaris Garuda Kini Pimpin Timnas Football
Gangguan ini diduga mengganggu sistem persinyalan dan pengoperasian di emplasemen stasiun, yang kemudian berujung pada tabrakan fatal.
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Bobby Rasyidin, menjelaskan kronologi awal kejadian.
“Perlu saya sampaikan juga kejadian ini di jam kurang jam 21.00 WIB kurang, dimulai dengan adanya temperan taksi hijau ya, itu di JPL 85. Sehingga ini yang kami curigai itu membuat sistem perkeretaapian di daerah stasiun emplasemen Bekasi Timur ini agak terganggu,” jelasnya.
Bobby menambahkan bahwa pihaknya menyerahkan sepenuhnya investigasi mendalam kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
“Tentunya kami menyerahkan kepada KNKT untuk lebih detail mencari tahu penyebab dari kecelakaan kereta pada malam hari ini,” tambahnya.
Sampai pada saat berita ini ditulis peristiwa naas itu telah menelan 7 korban jiawa dan puluhan orang mengalami luka baik ringan maupun berat dan sudah dilarikan ke rumah sakit untuk penanganan intensif.
“Jumlah korban yang terjadi pada tadi malam meninggal 7 orang dan luka-luka dirawat 81 orang,” kata Boby.
Baca Juga:Harga Iphone Turun: Cek Detail UpdatenyaKorsleting Listrik Bakar Rumah Di Cigedug Garut, Korban Berhasil Diamankan
Rendi, penumpang KRL yang saat itu berada di lokasi bersaksi bahwa kerusakan yang terjadi amatlah parah terutama pada gerbong wanita.
“Saya ngobrol sama kakek-kakek, baru dua kalimat saya lontarkan tiba-tiba guncangan terjadi ditabrak kereta. Saya rasa kenceng banget itu karena kayaknya yang berada di 4-5 gerbong itu sampai mental gimana orang yang paling belakang,” ujarnya.
Evakuasi korban berlangsung dramatis dari malam hingga pagi hari berikutnya. Tim Basarnas melakukan pemotongan badan gerbong menggunakan peralatan berat untuk membebaskan korban yang terjepit logam.
