Evakuasi Dramatis 6 Jam di Bekasi Timur: 7 Korban Perempuan Terjepit di Gerbong KRL

(Istimewa)
7 korban perempuan masih terjepit di dalam gerbong KRL, Basarnas masih upayakan evakuasi (Istimewa)
0 Komentar

RADARGARUT– Tragedi tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026, terus menyisakan duka dan tantangan besar bagi tim penyelamat.

Hingga Selasa dini hari 28 April 2026, proses evakuasi korban yang terjepit di gerbong KRL memasuki fase krusial. Kepala Basarnas, M Syafii, mengungkapkan bahwa tujuh korban yang masih terperangkap di dalam gerbong dan semuanya perempuan.

Seluruh korban terjepit dilaporkan dalam keadaan hidup dan bisa diajak bicara meski mengalami rasa sakit luar biasa, terutama pada bagian kaki yang terjepit material kereta.

Baca Juga:Garuda Indonesia Jadi Maskapai Paling Tepat Waktu di Dunia Versi OAG Maret 2026Wabup Garut Putri Karlina Tekankan Pengendalian Penduduk Lewat KB 

Menurut Syafii, proses evakuasi telah berlangsung selama kurang lebih 6 jam sejak tim gabungan tiba di lokasi. Tim Basarnas, didukung personel elit Basarnas Special Group (BSG), TNI-Polri, PMI, dan relawan, bekerja tanpa henti untuk memisahkan tubuh korban dari himpitan logam gerbong KRL yang bercampur dengan bagian lokomotif Argo Bromo Anggrek.

“Dengan peralatan normal tak mungkin kita lakukan,” tegasnya.

Tim harus mengerahkan alat khusus pemotong logam berat karena kekuatan material gerbong yang sangat kokoh akibat benturan hebat.

Salah satu hambatan terbesar adalah ruang kerja yang sangat terbatas. Volume di dalam gerbong hanya memungkinkan maksimal 25 orang bekerja sekaligus, sementara material lokomotif dan gerbong yang saling bertumpuk membuat akses semakin sulit.

Tim terpaksa melakukan pendekatan dari luar gerbong sekaligus dari dalam, sambil terus memberikan penanganan medis darurat untuk meredakan rasa sakit korban.

“Space untuk melakukan tindakan jadi kita melakukan tindakan dari luar juga ada kesulitan tersendiri,” tambahnya.

Pihak Basarnas memutuskan tidak melakukan pergeseran rangkaian kereta sama sekali. Alasan utamanya adalah menjaga keselamatan korban yang masih bisa berkomunikasi.

Setiap gerakan berisiko memperburuk kondisi terjepit, terutama pada kaki yang menjadi titik utama himpitan.

Baca Juga:Mengenal Gesrek: Kesenian Ekstrem Kebal Tubuh yang Mencuri Perhatian di Gebyar Pesona Budaya Garut 2026BBM Non Subsidi Terus Melambung Capai Angka Rp25.000 Per Liter

Prioritas utama adalah memotong dan memisahkan logam-logam yang menjepit tubuh secara hati-hati, sambil tim medis terus memantau dan memberikan oksigen serta obat pereda nyeri di tempat.

Kondisi gerbong perempuan yang hancur akibat tabrakan head-to-head ini menjadi fokus utama evakuasi. Ketujuh korban perempuan ini terjebak di bagian belakang KRL yang langsung tertabrak oleh lokomotif Argo Bromo Anggrek.

0 Komentar