RADARGARUT– Pemerintah Indonesia memberikan kepastian penting bagi masyarakat di tengah gejolak harga energi global.
Harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, seperti Pertalite dan Solar subsidi, tidak akan naik hingga akhir tahun 2026. Jaminan ini disampaikan langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, sebagai perintah Presiden Prabowo Subianto.
Syarat utamanya adalah harga minyak mentah Indonesia (ICP) tidak melampaui 100 dolar AS per barel.
Baca Juga:Idul Adha 2026: Tanggal 27 Mei, Libur Panjang 3 Hari, Ini Persiapan Kurban dan Makna MendalamnyaCicilan KUR BRI April 2026 Semakin Ringan: Peluang Emas Bagi UMKM Dapat Modal Murah dengan Angsuran Terjangkau
Saat ini, realisasi rata-rata harga minyak mentah Indonesia sejak Januari hingga April 2026 berada di level sekitar 77 dolar AS per barel.
Angka ini memang lebih tinggi dari asumsi dasar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dipatok 70 dolar AS per barel.
Bahlil memberikan keterangan pada Kamis, 16 April 2026 terkait ruang fiskal pemerintah masih cukup lebar untuk menjaga subsidi energi di Istana Kepresidenan Jakarta pada media.
Dirinya mengungkapkan bahwa APBN masih aman jika harga minyak mentah belum tembus lebih dari 100 dollar.
“Kalau sampai dengan 100 dollar itu masih aman dalam APBN,” ujarnya.
Kebijakan ini sangat strategis karena BBM bersubsidi menjadi penopang utama mobilitas masyarakat dan sektor transportasi di Indonesia.
Kenaikan harga BBM sering kali memicu efek domino, seperti inflasi, penurunan daya beli, hingga beban tambahan bagi pelaku usaha kecil menengah (UMKM) dan nelayan.
Baca Juga:Timnas U-17 Indonesia vs Malaysia Malam Ini, Garuda Muda Bidik Kemenangan Kedua!Menelusuri Jejak Sejarah Pasar Guntur Garut: Dari Pusat Barter Hingga Ikon Ekonomi Kota Intan
Dengan menahan harga hingga akhir 2026, pemerintah berharap dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional dan melindungi daya beli masyarakat di tengah berbagai ketidakpastian global, termasuk konflik geopolitik yang memengaruhi pasokan minyak dunia.
Ketergantungan Impor dan Upaya Diversifikasi Pasokan
Meski subsidi terjaga, Indonesia masih menghadapi tantangan struktural di sektor energi.
Konsumsi BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi atau lifting domestik hanya sekitar 600.000-610.000 barel per hari.
Hal ini menyebabkan ketergantungan impor mencapai hampir 1 juta barel per hari. Kebutuhan minyak mentah secara tahunan pun mencapai kurang lebih 300 juta barel.
Untuk mengatasi defisit tersebut, pemerintah aktif menjalin kerja sama internasional. Salah satu langkah konkret adalah negosiasi dengan Rusia.
