Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Diganti Nanik

(Disways)
Dadan Hindayana dicopot dari jabatannya sebagai Kepala BGN diganti Nanik S. Deyang (Disways)
0 Komentar

RADARGARUT– Dalam sebuah keputusan mendadak yang menjadi perhatian publik, Presiden Prabowo Subianto melakukan pergantian kepemimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN). Dadan Hindayana resmi dicopot dari posisi Kepala BGN, beserta dua Wakil Kepala BGN yaitu Lodwijk (atau Lodewyk Pusung) dan Sonny Sanjaya.

Keputusan ini diumumkan langsung oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi pada Selasa, 2 Juni 2026, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Sebagai pengganti, Presiden Prabowo menunjuk Nanik S. Deyang, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala BGN, untuk memimpin lembaga tersebut.

Baca Juga:Festival Hasil Pertanian Garut 2026 Digelar, Rayakan Kekayaan Petani LokalIHSG Tiba-tiba Anjlok 4% ke Level 5.946, Pasar Saham Indonesia Kian Tertekan

Dua posisi wakil kepala baru diisi oleh Agustina Arumsari dan Mayjen TNI Trenggono. Pergantian ini merupakan hasil evaluasi komprehensif pemerintah terhadap kinerja BGN selama kurang lebih 1,5 tahun sejak lembaga ini dibentuk untuk mendukung program prioritas nasional.

Dalam keterangan persnya, Prasetyo Hadi menyampaikan terima kasih atas dedikasi Dadan Hindayana dan para wakilnya dalam membangun fondasi BGN.

Namun, ia juga menegaskan bahwa kepemimpinan baru diharapkan dapat melakukan konsolidasi internal, memperkuat koordinasi lintas kementerian/lembaga, serta dengan pemerintah daerah agar program-program BGN berjalan lebih optimal.

Latar Belakang dan Alasan Pergantian

Badan Gizi Nasional merupakan lembaga penting yang bertugas mengimplementasikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program andalan pemerintahan Prabowo-Gibran untuk mengatasi masalah stunting, gizi buruk, dan mendukung tumbuh kembang anak serta ibu hamil di seluruh Indonesia.

Program ini dirancang menjangkau jutaan penerima manfaat, mulai dari balita, siswa sekolah, hingga kelompok rentan lainnya.

Menurut berbagai sumber, evaluasi selama 1,5 tahun menemukan beberapa catatan penting, antara lain:

  • Masalah kedisiplinan dan penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP).
  • Tata kelola yang belum optimal.
  • Insiden keracunan makanan yang menimpa ratusan penerima manfaat di beberapa daerah.
  • Pengeluaran yang dipertanyakan, termasuk anggaran besar untuk kegiatan event dan pembelian sepeda motor senilai Rp113 miliar.

Kualitas makanan yang disediakan juga menjadi sorotan publik dan media. Meski program MBG mendapat apresiasi karena tujuannya yang mulia, berbagai laporan lapangan menunjukkan adanya ketidakseragaman kualitas, distribusi yang belum merata, serta tantangan logistik di daerah terpencil.

0 Komentar