APKI: Limbah Diduga Bukan Berasal dari Sukaregang
Terpisah, perwakilan Asosiasi Pengusaha Kulit Indonesia (APKI) Garut, H. Daud, menyatakan limbah tersebut diduga bukan berasal dari pengusaha atau perajin kulit di kawasan Sukaregang.
“Saya sebagai ketua perkumpulan, APKI itu selalu kena getahnya dari pembuangan limbah ini. Sebenarnya limbah kulit ini bukan dari pengusaha atau pengrajin dari Sukaregang, tapi dari luar Garut,” kata Daud saat dikonfirmasi.
Menurut Daud, berdasarkan informasi yang diperolehnya, limbah tersebut diduga dibawa ke Garut menggunakan kendaraan pengangkut sayuran yang sebelumnya melakukan perjalanan ke kawasan Cikarang.
Baca Juga:Tunggakan BPJS Kesehatan Lansia Disorot, Minta Dasar Tagihan Dibuka TransparanPemanfaatan Teknologi Pertanian Baru 40,35 Persen, Distan Akui Masih Tertinggal
“Jadi begini, proses sampainya limbah kulit dari luar kota itu dibawa oleh sopir pengangkut sayuran dari Garut ke daerah Cikarang. Nanti selesai mengantar sayuran, mobil itu kan kosong. Nah, mereka itu datang ke pabrik kulit, lalu pabrik itu menyuruh mengangkut dan dibayar untuk pembuangan,” jelasnya.
Daud menduga, setelah membawa limbah tersebut, pengemudi kesulitan menentukan lokasi pembuangan sehingga akhirnya membuangnya di Garut maupun lokasi lainnya.
Namun, keterangan mengenai asal-usul limbah tersebut masih merupakan penjelasan dari pihak APKI dan belum disertai keterangan resmi dari pihak pengangkut maupun perusahaan yang disebut sebagai sumber limbah.
Daud mengatakan APKI akan ikut membantu menangani tumpukan limbah tersebut setelah proses pendinginan selesai dan dipastikan tidak lagi menyisakan api.
“Limbah ini setelah pendinginan dan tidak ada api akan kami angkut, dibersihkan, dan dibuang. Pembuangan ini juga tidak sembarangan, tentunya ada pihak ketiga sebagai pengelola,” tutupnya.
Warga berharap penanganan tidak berhenti pada pemadaman api, tetapi juga dilanjutkan dengan pembersihan lokasi serta penelusuran asal limbah agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. (rza)
