GARUT – Pemerintah Kabupaten Garut melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) terus mematangkan persiapan penyelenggaraan Festival Layang-Layang Internasional yang akan digelar di kawasan Tepas Papandayan.
Ajang tersebut rencananya berlangsung pada 28 Juli hingga 3 Agustus 2026. Saat ini, persiapan difokuskan pada proses perizinan, penataan akses jalan, serta pengaturan area kegiatan.
Kepala Disparbud Kabupaten Garut, Beni Yoga, mengatakan proses perizinan masih berjalan dan saat ini menunggu persetujuan dari Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri). Perizinan diperlukan karena kegiatan tersebut akan melibatkan peserta dari sejumlah negara.
Baca Juga:Pelarian Pembobol ATM di Tasik Berakhir di Garut, Satu Orang Sempat Lompat ke SungaiDukung Pendidikan Keluarga Prasejahtera, PNM Garut Beri Beasiswa untuk 33 Pelajar
“Perizinan sedang kami urus. Mudah-mudahan segera turun karena sudah diajukan. Kegiatan ini harus mendapatkan izin dari Mabes Polri, tidak bisa melalui Polres atau Polda, karena berkaitan dengan kehadiran peserta dari beberapa negara asing,” kata Beni, kemarin.
Selain perizinan, dikatakan Beni, Disparbud Garut juga telah melakukan penataan akses menuju lokasi festival. Jalan menuju kawasan Tepas Papandayan sudah diperlebar hingga lebih dari enam meter agar mampu menunjang arus kendaraan, terutama saat pembukaan dan penutupan kegiatan.
“Untuk sementara jalan sudah kami lebarkan lebih dari enam meter, sehingga untuk kebutuhan acara masih aman. Pengerjaan sisi lainnya belum dapat diselesaikan karena waktu yang tersedia tidak mencukupi. Saat ini baru satu sisi yang diprioritaskan,” katanya.
Beni mengungkapkan, hingga saat ini sebanyak 13 negara telah memastikan diri mengikuti festival tersebut. Selain peserta internasional, tujuh provinsi di Indonesia juga sudah terdaftar sebagai peserta.
Meski demikian, pihak penyelenggara tidak hanya berfokus pada jumlah peserta, tetapi juga pada kapasitas area festival. Sebab, lokasi kegiatan memiliki luas sekitar dua hektare sehingga perlu pengaturan yang matang agar seluruh peserta dapat tampil dengan baik.
“Jadi bukan pesertanya yang di target, inikan masalah jumlah layangan karena tempar kita hanya sekitat 2 hektare, apalagi satu negara itu bisa bawa 5-6 layang-layang,” ungkapnya.
Menurut Beni, keterbatasan lahan menjadi salah satu tantangan utama dalam penyelenggaraan festival ini. Beberapa peserta diperkirakan membawa lebih dari satu layang-layang, bahkan ada yang memiliki koleksi dalam jumlah besar.
