RADARGARUT– Pada Rabu, 8 Juli 2026, nilai tukar rupiah kembali menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global.
Menurut data Bloomberg, mata uang Garuda berada di kisaran Rp18.004 per USD pada pukul 11.50 WIB, melemah sekitar 24 poin atau 0,13% dari penutupan sebelumnya di level Rp17.980.
Meskipun sempat menguat dan bergerak di bawah level tersebut dalam beberapa sesi terakhir, rupiah kembali tertekan dan berfluktuasi antara Rp17.980 hingga Rp18.011 sepanjang perdagangan hari itu.
Baca Juga:Prakiraan Cuaca Garut Sepekan Kedepan: Cuaca Cerah Dengan Suhu Dingin Pada Malam dan Dini HariJadwal Terbaru SAMSAT Garut Juli 2026
Level Rp18.000 bukan sekadar angka, ia merupakan ambang batas psikologis penting yang kerap memicu kekhawatiran pelaku pasar. Pencapaian ini menandakan depresiasi year-to-date (YTD) rupiah sekitar 7,94%.
Dalam 52 pekan terakhir, rupiah bergerak dalam rentang Rp16.079 hingga Rp18.209 per USD, sehingga posisi saat ini mendekati level tertinggi (terlemah) dalam periode tersebut.
Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah
Pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen global dan dinamika domestik. Di tingkat global, dolar AS masih kuat meskipun ada ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Data ekonomi AS yang mixed, termasuk inflasi yang masih persist dan ketidakpastian geopolitik, membuat investor cenderung mencari safe-haven di greenback. Selain itu, kekhawatiran resesi di beberapa negara maju dan fluktuasi harga komoditas global turut menekan mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Di dalam negeri, tekanan datang dari prospek ekonomi yang masih diwarnai ketidakpastian. Meski Bank Indonesia (BI) telah melakukan intervensi di pasar valuta asing dan menaikkan suku bunga acuan di luar jadwal pada Juni 2026 untuk menstabilkan rupiah, tekanan tetap ada.
Cadangan devisa yang sempat turun ke level rendah juga menjadi perhatian, walaupun ada pemulihan tipis belakangan ini. Pemerintah juga sedang berupaya memangkas anggaran program makan gratis untuk efisiensi fiskal, yang menunjukkan upaya pengendalian defisit di tengah tekanan ekonomi.
Data terkini per 9 Juli 2026 menunjukkan rupiah masih bergerak di kisaran Rp18.000-an, dengan kurs tengah BI dan bank-bank besar seperti BCA dan Maybank mencerminkan level serupa (sekitar Rp17.900–Rp18.100 untuk transaksi ritel).
