Indonesia Masuk Zona Merah Industri Dampak Rupiah Loyo dan Rendahnya Daya Beli

(Unsplash/radargarut.id)
Indonesia jadi kategori zona merah industri akibat rupiah lemah dan daya beli rendah, ancaman PHK masal menanti (Unsplash/radargarut.id)
0 Komentar

RADARGARUT– Sektor industri manufaktur Indonesia kembali menghadapi tantangan berat. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang dirilis S&P Global menunjukkan angka 46,9 pada Juni 2026.

Angka ini berada di bawah level 50, menandakan sektor industri telah masuk ke zona kontraksi atau penyusutan. Penurunan ini merupakan yang terdalam dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

Penurunan volume output manufaktur tercatat sebagai yang terbesar sejak April 2025. Pesanan baru dari dalam dan luar negeri ikut turun tajam untuk pertama kalinya dalam tiga bulan.

Baca Juga:Ramalan Zodiak Hari Ini: Siap-Siap Rezeki Berlimpah!Waspada Modus Penipuan Online Baru Lewat Drama China, OJK Catat Ribuan Pengaduan

Kondisi ini semakin memperburuk kesehatan sektor produksi barang di Tanah Air.Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas, Fakhrul Fulvian, menilai penurunan PMI manufaktur ini mengirim sinyal kuat bahwa sektor industri membutuhkan kepastian kebijakan dan optimisme dari pemerintah.

“Ketika dunia usaha menghadapi tekanan biaya yang meningkat, pemerintah perlu mengurangi berbagai bentuk intervensi yang menambah ketidakpastian. Saat ini yang dibutuhkan adalah mengembalikan kepercayaan,” tegasnya.

Menurutnya, pelaku usaha akan kembali berinvestasi jika melihat arah kebijakan yang jelas, konsisten, dan memberikan ruang bagi sektor swasta untuk berkembang.

Fakhrul merekomendasikan stimulus langsung yang dapat menekan biaya produksi, sehingga perusahaan dapat mempertahankan kapasitas produksi dan tenaga kerja.

Di sisi konsumsi, ia mengusulkan pemberian diskon tarif listrik hingga 20 persen bagi rumah tangga. Langkah ini dinilai memiliki multiplier effect yang cepat karena langsung meningkatkan daya belanja masyarakat di tengah tekanan inflasi.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menambahkan bahwa pelemahan PMI bukan semata-mata karena ketidakpercayaan terhadap pemerintah.

Faktor utamanya adalah permintaan domestik yang melemah, kenaikan biaya produksi, rupiah yang belum stabil, serta menurunnya kepastian pasar.

Baca Juga:Daftar Harga BBM Juli 2026: Berikut List Harga BBM yang Turun!Jadwal Puasa Sunnah Juli 2026 Lengkap: Senin-Kamis hingga Ayyamul Bidh, Ini Niat dan Keutamaannya

“Pelaku usaha makin berhati-hati. Ketidakpastian kebijakan, regulasi yang sering berubah, biaya logistik tinggi, dan dukungan industri yang kurang tepat sasaran semakin memperburuk situasi,” jelas Josua.

Ia menekankan pentingnya pemerintah menjaga pasokan bahan baku, menurunkan biaya energi dan logistik, serta mempercepat bantuan bagi sektor padat karya dan berorientasi ekspor.

Pelemahan daya beli masyarakat akibat tekanan harga juga menjadi salah satu pendorong utama penurunan pesanan baru.

0 Komentar