Safari Literasi di Sumedang Tekankan Pentingnya Sinergi Pentahelix Hadapi Tantangan Era Digital

istimewa
Safari Literasi di Sumedang Tekankan Pentingnya Sinergi Pentahelix Hadapi Tantangan Era Digital
0 Komentar

SUMEDANG – Penguatan budaya literasi tidak lagi menjadi tanggung jawab pemerintah maupun lembaga pendidikan semata. Di tengah derasnya arus informasi digital, dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak untuk membangun masyarakat yang memiliki kemampuan berpikir kritis, gemar membaca, serta bijak memanfaatkan teknologi.

Pesan tersebut menjadi fokus utama dalam kegiatan Safari Literasi bertajuk “Membangun Literasi Melalui Integritas dan Kolaborasi Pemerintah dan Pegiat Literasi” yang diselenggarakan di Kabupaten Sumedang, Kamis (25/6).

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusipda) Jawa Barat, Kusmana Hartadji, mengatakan Safari Literasi dirancang sebagai gerakan bersama yang melibatkan unsur pentahelix, mulai dari pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas hingga media.

Baca Juga:Menjaga Dapur Tetap Ngepul: Mengapa Audit BGN Tak Harus Mengorbankan Makan Bergizi Gratis?PNM Resmikan Ruang Pintar Karangpawitan untuk Anak-Anak Garut

Menurutnya, Sumedang dipilih menjadi salah satu lokasi pelaksanaan karena dinilai memiliki perhatian yang besar terhadap pengembangan budaya literasi di masyarakat.

“Sumedang dipilih karena dukungan pemerintah daerahnya sangat antusias dalam mengembangkan literasi. Literasi itu bukan hanya membaca, tetapi juga mencakup berhitung, budaya, kewargaan, dan berbagai aspek lainnya,” ujar Kusmana.

Ia menjelaskan, konsep literasi saat ini telah berkembang jauh melampaui kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, serta memilah berbagai informasi yang beredar melalui media digital.

Melalui kegiatan tersebut, Dispusipda Jawa Barat berupaya meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM). Sejumlah inovasi juga terus dikembangkan, salah satunya menghadirkan pojok baca di ruang-ruang publik yang dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai tempat membaca, berdiskusi, hingga berbagai kegiatan edukatif.

Sementara itu, Bunda Literasi Kabupaten Sumedang, Susi Gantini, mengingatkan bahwa kemampuan berliterasi di era digital menjadi bekal penting bagi anak-anak dalam menghadapi berbagai ancaman di dunia maya.

Menurutnya, penggunaan teknologi yang semakin luas harus diimbangi dengan kemampuan menyaring informasi agar anak-anak terhindar dari berbagai dampak negatif, termasuk kekerasan seksual dan paparan konten yang tidak layak.

“Kekerasan anak di Sumedang lumayan tinggi, termasuk kekerasan seksual juga. Maka dalam kesempatan kegiatan ini, anak-anak dididik untuk bijak menggunakan gadget, salah satunya dengan menyaring informasi-informasi yang negatif,” kata Susi.

0 Komentar