RADARGARUT– Badan Gizi Nasional (BGN) terus melakukan penyempurnaan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program unggulan pemerintah untuk mengatasi masalah stunting, gizi buruk, dan ketahanan gizi nasional.
Dalam pembaruan terbaru, BGN menetapkan empat kelompok prioritas penerima manfaat yang akan mendapatkan intervensi gizi lebih dulu. Langkah ini dilakukan melalui pemutakhiran dan validasi data secara berkelanjutan agar program lebih tepat sasaran dan manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh masyarakat yang paling membutuhkan.
Wakil Kepala sekaligus Juru Bicara BGN, Agustina Arumsari, menjelaskan bahwa data yang akurat menjadi fondasi utama dalam penyusunan kebijakan gizi nasional.
Baca Juga:Nyanéut Festival 2026 Siap Digelar di Garut: Festival Minum Teh Terpopuler di Indonesia yang Padukan Tradisi dPrabowo Sebut Tak Ada Uang Untuk Gaji Guru, Sementara MBG dan KDMP Terus Makan Anggaran Triliunan
“Data yang akurat sangat penting karena menjadi dasar bagi kami dalam menyusun kebijakan penerima manfaat. Tujuannya adalah memastikan intervensi gizi diberikan kepada kelompok yang benar-benar membutuhkan sehingga manfaat program dapat dirasakan secara optimal,” ujar Arum dalam konferensi pers di Jakarta pada Rabu 24 Juni 2026.
Keempat kelompok prioritas terbaru tersebut adalah:
Anak-anak di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
Wilayah-wilayah terpencil sering kali menghadapi tantangan akses pangan bergizi, infrastruktur, dan layanan kesehatan yang terbatas. Prioritas ini diharapkan dapat membantu mengurangi kesenjangan gizi antarwilayah di Indonesia.
Ibu Hamil
Periode kehamilan merupakan fase krusial di mana nutrisi ibu sangat menentukan kesehatan janin. Pemberian makan bergizi gratis diharapkan dapat mencegah stunting sejak dini dan menurunkan risiko komplikasi kehamilan.
Ibu Menyusui
Ibu yang sedang menyusui membutuhkan asupan gizi ekstra untuk memproduksi ASI berkualitas. Dukungan melalui program MBG akan membantu memastikan bayi mendapatkan nutrisi optimal pada masa awal kehidupan.
Balita
Usia balita (di bawah lima tahun) adalah periode emas pertumbuhan otak dan fisik anak. Intervensi gizi pada kelompok ini menjadi salah satu pilar utama dalam upaya penurunan stunting nasional.
Penentuan prioritas ini didasarkan pada berbagai indikator, mulai dari kondisi ketahanan gizi, status sosial ekonomi, hingga akses masyarakat terhadap pangan bergizi.
BGN terus melakukan pemetaan wilayah dan satuan pendidikan, serta integrasi data dari berbagai sumber untuk memastikan kebijakan berbasis bukti yang kuat.
