Diakuinya, pendekatan tersebut memiliki dampak yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar kegiatan seremonial. “Kehadiran polisi di tengah masyarakat menciptakan ruang dialog, memperkuat kepercayaan, sekaligus membuka peluang kerja sama dalam menjaga keamanan lingkungan,” ucapnya.
Keamanan yang sesungguhnya, tegas Aji, bukan hanya ketiadaan gangguan kamtibmas, melainkan juga hadirnya rasa nyaman, kepedulian, dan kesejahteraan di tengah masyarakat.
“Kami percaya bahwa keamanan dan kesejahteraan masyarakat merupakan dua hal yang saling berkaitan. Karena itu, selain menjaga keamanan, kami juga berupaya hadir dan memberikan dukungan terhadap kegiatan masyarakat yang produktif,” tegasnya.
Baca Juga:Penjual Tahu Bulat di Jayaraga Garut Ternyata Jualan Narkoba, Jenisnya Tembakau SintetisPemkab Garut Gandeng OJK dan Persis Perluas Literasi Keuangan Syariah hingga Tingkat Desa
Di usia yang ke-80 tahun, Hari Bhayangkara menurutnya bukan hanya menjadi momen refleksi bagi institusi Polri.
“Ini juga pengingat bagi kami bahwa esensi pengabdian terletak pada kedekatan dengan masyarakat. Sapu yang digerakkan bersama warga di halaman masjid, langkah kaki yang menyusuri lahan pertanian, hingga dialog sederhana dengan petani dan peternak, merupakan bagian dari ikhtiar membangun kepercayaan yang nilainya tidak dapat diukur dengan angka,” ucapnya.
“Kami ingin menunjukkan bahwa pengabdian tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan spektakuler. Terkadang, pengabdian justru tumbuh dari tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan dengan tulus,” pungkasnya. (Iqbal Gojali)
