RADARGARUT– Pasar saham Indonesia kembali menunjukkan optimisme di awal pekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Senin, 15 Juni 2026, didorong oleh penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta inflow investor asing yang kembali deras.
Pada penutupan Jumat 13 Juni 2026, IHSG berhasil bertahan di zona hijau dengan dukungan kuat dari sektor Basic Materials yang melonjak hingga +4,85% dan sektor Energy +4,66%.
Penguatan ini menjadi sinyal positif bahwa momentum bullish masih berlanjut setelah beberapa waktu mengalami tekanan.Menurut analis PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada, penguatan rupiah yang stabil di bawah level Rp18.000 per USD menjadi faktor kunci kembalinya sentimen positif investor.
Baca Juga:Gelombang Besar Mahasiswa Swasta Geruduk Jakarta Hari Ini: Tuntut Perbaikan Ekonomi di Depan DPR dan Istana!Presiden Republik Federal Jerman Lakukan Kunjungan Ke Indonesia
“Rupiah yang menguat dan stabil memberikan kepercayaan diri bagi pelaku pasar, terutama di tengah kondisi global yang relatif lebih tenang,” ujar Priyambada.
Data perdagangan menunjukkan investor asing mencatatkan net buy signifikan sebesar Rp287,36 miliar di pasar reguler. Saham-saham blue chip seperti BBCA, DSSA, TPIA, AMMN, dan BRMS menjadi incaran utama investor asing, mencerminkan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang tetap resilien.
Dari sisi teknikal, candle IHSG pada penutupan akhir pekan membentuk white spinning top yang masih bertahan di atas MA5 dan mendekati MA20, dengan indikator MACD yang menunjukkan bullish crossover.
Analis memproyeksikan IHSG hari ini akan bergerak dalam kisaran support 5.943 hingga resistance 6.081, dengan kecenderungan menguat lebih lanjut.
Mengapa Rupiah Jadi Katalis Kuat?
Penguatan rupiah tidak hanya mengurangi tekanan impor dan inflasi, tetapi juga meningkatkan daya tarik aset keuangan Indonesia bagi investor global. Ketika rupiah menguat, biaya pinjaman dalam mata uang asing menjadi lebih terjangkau bagi emiten, sehingga profitabilitas perusahaan meningkat.
Hal ini secara tidak langsung mendongkrak valuasi saham di Bursa Efek Indonesia.Kombinasi antara inflow asing, performa sektor komoditas yang kuat, dan stabilisasi mata uang domestik menciptakan kondisi ideal untuk penguatan IHSG.
Para pelaku pasar kini lebih percaya diri bahwa indeks dapat menembus level resistance berikutnya jika tidak ada gejolak geopolitik baru yang signifikan.
