GARUT – Program penanaman jagung untuk mendukung ketahanan pangan nasional di Kabupaten Garut menghadapi kendala cuaca. Petani jagung binaan BUMDes Bangkit Mekarsari di Desa Mekarsari, Kecamatan Bayongbong, memutuskan menunda masa tanam karena kondisi cuaca dinilai belum mendukung.
Penundaan dilakukan setelah para petani melihat tanda-tanda musim kemarau mulai memasuki wilayah tersebut. Kondisi itu dinilai cukup berisiko bagi budidaya jagung karena lahan yang akan digunakan merupakan lahan tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan sebagai sumber pengairan utama.
Diketahui, kelompok tani binaan BUMDes Bangkit Mekarsari sebelumnya menjalin kerja sama dengan Polsek Bayongbong dalam pelaksanaan program penanaman jagung yang merupakan bagian dari program ketahanan pangan nasional Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga:Garut Duduki Peringkat Dua dan Tiga Tertinggi AKB-AKI Di Jabar, Dinkes Perkuat Strategi PenangananLupa Matikan Kompor Picu Tempat Usaha Terbakar Di Garut Kota, Kerugian Capai Rp40 Juta
Namun keterbatasan sumber air membuat proses penanaman belum memungkinkan dilakukan dalam waktu dekat.
Koordinator Lapangan Penanaman Jagung BUMDes Bangkit Mekarsari, Satian, mengatakan pihaknya memilih menunggu hingga musim hujan tiba agar proses budidaya dapat berjalan lebih optimal.
“Nanti saja ketika musim hujan sudah mulai tiba kita baru mulai menanam,” ujarnya, Senin (8/6/2026).
Menurut Satian, pengurus BUMDes bersama para petani tidak ingin mengambil risiko gagal panen akibat kekurangan pasokan air apabila penanaman dipaksakan saat musim kemarau.
Meski masa tanam ditunda, persiapan lahan tetap dilakukan agar penanaman bisa segera dimulai ketika kondisi cuaca kembali mendukung.
Sejumlah langkah yang telah dilakukan di antaranya membersihkan rumput liar dan gulma di area pertanian.
“Untuk rumput sudah kita bersihkan, sudah kita semprot dan sudah kita tebas,” katanya.
Baca Juga:Meski Alami Gangguan Jiwa, Kondisi Kesehatan Mila Baik dan Gemar Bersholawat42 SPT Korwil Pendidikan Garut Batal Diserahkan, Anggota DPRD Pertanyakan Siapa Aktor Dibalik Pembatalan
Satian menjelaskan, terdapat beberapa alternatif yang sebenarnya dapat dilakukan agar penanaman tetap berjalan pada musim kemarau, seperti penyediaan mesin pompa air maupun pembangunan sumur bor.
Namun penggunaan pompa air dinilai kurang efektif karena membutuhkan jaringan pipa cukup panjang akibat jarak sumber air dengan lahan pertanian yang cukup jauh.
“Untuk mesin pompa air tentu akan memakan biaya yang juga cukup besar yaitu pipanya harus panjang karena jarak sungainya agak jauh. Dan solusi yang paling tepat memang pengadaan sumur bor,” ucapnya.
