Merdeka! Rupiah Resmi Tembus Angka Rp.17,845 per Dolar

(Istimewa)
Nilai rupiah anjlok (Istimewa)
0 Komentar

RADARGARUT– Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kembali mencatat sejarah kelam. Pada perdagangan Rabu, 26 Mei 2026, rupiah sempat menyentuh level Rp17.845 per USD, menjadi titik terlemah sepanjang sejarah mata uang Garuda.

Menurut data Google Finance dan platform monitoring pasar, rupiah menyentuh angka tersebut pada sesi pagi sebelum akhirnya berfluktuasi di kisaran Rp17.780-17.845per USD. Pelemahan ini melanjutkan tren depresiasi yang sudah berlangsung sejak awal 2026, dengan total penurunan year-to-date mencapai lebih dari 6,4 persen.

Faktor Pendorong Pelemahan Rupiah

Para analis menyoroti beberapa faktor utama yang memicu pelemahan ini:

Baca Juga:iQoo Z11 dan Z11x Resmi Diluncurkan! Berikut Daftar HarganyaDLH Bandung Punguti 112 Ton Sampah Sisa Konvoi Persib Juara: Didominasi Oleh Sampah Flare dan Botol Minuman

  • Kekuatan Dolar AS yang luar biasa, indeks dolar (DXY) tetap tinggi akibat ekspektasi kebijakan moneter The Fed di tengah ketidakpastian inflasi global.
  • Gejolak Timur Tengah, ketegangan yang berlanjut mendorong harga minyak dunia naik, memperlemah posisi transaksi berjalan Indonesia sebagai negara net importir energi.
  • Capital outflow, keluarnya dana asing dari pasar obligasi dan saham domestik akibat suku bunga global yang kompetitif.
  • Defisit fiskal dan current account, defisit yang melebar di kuartal pertama 2026 menambah tekanan pada rupiah.

Bank Indonesia (BI) telah bergerak cepat. Selain intervensi di pasar spot dan non-deliverable forward, BI menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada 20 Mei 2026. Cadangan devisa Indonesia masih berada di level relatif aman sekitar US$146 miliar.

Dampak Ekonomi dan Sosial

Pelemahan rupiah ini langsung dirasakan berbagai sektor. Harga barang impor, bahan baku industri, suku cadang, hingga bahan pangan impor berpotensi naik. Inflasi yang semula terkendali berisiko melampaui target jika rupiah bertahan di atas Rp17.700 dalam waktu lama.

Presiden Prabowo Subianto sempat memberikan pernyataan bahwa dampak terbesar lebih dirasakan kalangan importir dan pelaku usaha besar, sementara masyarakat di pedesaan relatif lebih resilien karena masih bergantung pada produksi lokal.

Namun, ekonom memperingatkan bahwa daya beli masyarakat kelas menengah bawah akan tergerus, terutama menjelang akhir tahun.Di sektor korporasi, perusahaan dengan utang dolar AS dalam jumlah besar terpaksa menanggung beban biaya bunga dan pokok pinjaman yang lebih mahal.

0 Komentar