GARUT – Anak Tidak Sekolah (ATS) ataupun anak putus sekolah di Kabupaten Garut, masih menjadi tantangan utama, sehingga Dinas Pendidikan (Disdik) Garut terus melakukan berbagai upaya agar setiap anak di Garut dapat bersekolah.
Kepala Dinas Pendidikan Garut, Asep Wawan Budiman, mengatakan bahwa pihaknya sudah berusaha mengidentifikasi, memverifikasi bahkan memvalidasi terkait keberadaan bahkan faktor anak putus sekolah di Garut.
Menurut Aswan sapaan akrabnya, pihaknya mendapatkan data dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) dari Kemendikdasmen bahwa ada beberapa faktor anak bisa putus sekolah.
Baca Juga:Laga Penuh Sejarah, Harga Tiket Persib Vs Persijap MelonjakYudha Puja Turnawan Serap Aspirasi Perempuan Kepala Keluarga
“Ada beberapa kriteria untuk yang putus sekolah itu, penyebabnya itu, ada yang sudah meninggal juga dari data itu dari Pusdatin, sudah mendeteksi nya,” katanya.
Menurut Aswan, beberapa alasan yang sudah diverifikasi hampir rata-rata ialah karena tidak ada biaya, sekolah jauh dari rumah.
“Ini persentasenya memang cukup rendah, yang tinggi itu dari ini anak tidak ditemukan melanjutkan ke luar negeri dan melanjutkan ke pesantren yang tinggi,” katanya.
Namun ia mengungkapkan, bahwa menurut data dari Pusdatin juga ada anak yang berlum pernah bersekolah itu sekitar 19 ribu, belum pernah bersekolah artinya SD pun tidak.
“Ya yang namanya belum pernah bersekolah berarti Sd pun enggak, ya itu hanya datanya kita perlu validasi lagi ini belum tervalidasi, masih data yang dari pusdatin,” ungkapnya.
Selain itu, kata dia, untuk sementara ini ada anak yang Drop Out (DO) sebanyak 21 ribu yang sudah terverifikasi.
“Yang DO itu ada di SD, SMP kemudian ada yang lulus tapi tidak melanjutkan SD ke SMP atau SMP ke SMA, ada bermacam-macam,” katanya.
Baca Juga:Banprov Jabar Untuk Desa Tahun 2026 Tinggal TPAPD, Anggaran Infrastruktur DihapusPeredaran Tramadol di Garut Makin Merajarela, Tokoh Agama Desak Semua Pihak Bertindak Serius
Sebagai tindak lanjut dari Disdik, pihaknya sudah menyediakan anggaran untuk tahun 2026 agar memutus rantai anak putus sekolah, namun memang kebanyakan ada yang tidak memiliki biaya untuk sekolah.
“Berdasarkan hasil validasi kan ada beberapa yang memang alasannya tidak ada biaya ya itu sebanyak 700 orang. Kemudian sekolah jauh dari rumah itu sebanyak 600 orang,” lanjutnya.
Keberadaan Sekolah Rakyat (SR) pun, lanjut dia, sangat membantu untuk anak putus sekolah, dikarenakan faktor ekonomi paling banyak.
