Oleh: Muhammad Surya Gumilang, S.Pd., Hum. – Dosen Pendidikan Seni Rupa Anak Usia Dini STIT Qurrota A’yun
ADA momen ketika dunia orang dewasa terasa terlalu serius untuk ukuran anak-anak. Salah satunya dapat ditemukan di arena lomba gambar. Di sana, anak usia lima tahun yang sebenarnya masih menikmati menggambar matahari tersenyum tiba-tiba harus berhadapan dengan standar visual yang kadang lebih cocok untuk ujian masuk sekolah desain.
Krayon perlahan berubah fungsi: bukan lagi alat bermain, melainkan alat kompetisi. Entah sejak kapan gambar anak yang dianggap “bagus” bergeser maknanya. Semakin mirip karya orang dewasa, semakin besar peluang membawa pulang piala.
Yang menarik, banyak juri dan pelatih lomba gambar anak justru sibuk mencari “gambar anak yang paling dewasa”. Semakin mirip karya mahasiswa desain komunikasi visual semester akhir, semakin dianggap berbakat.
Baca Juga:BRI Tegaskan Dugaan Kasus KDRT Oknum Vendor di Garut Tidak Berkaitan dengan Operasional PerusahaanRutan Garut Gelar Razia Gabungan dan Tes Urine, Tegaskan Komitmen Zero HALINAR
Anak TK yang menggambar kucing berkaki enam dianggap salah, sementara anak yang mampu membuat efek cahaya senja ala drama Korea dipuji luar biasa. Seolah-olah tujuan perkembangan seni rupa anak adalah menjadi printer manusia.
Padahal dalam kajian pendidikan seni, kondisi ini cukup mengkhawatirkan. Viktor Lowenfeld, tokoh penting pendidikan seni rupa anak, sejak lama menjelaskan bahwa gambar anak berkembang melalui tahapan yang khas: mulai dari scribbling stage (coreng-moreng), pre-schematic, schematic, hingga realism.
Pada fase tertentu, anak memang belum berpikir realistis. Kepala bisa lebih besar dari badan, pohon bisa berwarna biru, sapi bisa terbang, dan manusia bisa memiliki tangan yang keluar dari telinga. Itu bukan kesalahan. Itu perkembangan.
Masalahnya, di lapangan, teori perkembangan sering kalah oleh satu prinsip yang sangat dominan dalam budaya pendidikan kita: “yang penting juara”. Akibatnya, banyak anak dipaksa melompati fase perkembangan visualnya sendiri.
Anak usia dini yang seharusnya menikmati eksplorasi simbolik justru dipaksa memahami gelap-terang, anatomi, perspektif, bahkan layering warna. Mereka belum selesai memahami bentuk rumah versi imajinasinya sendiri, tetapi sudah diminta membuat refleksi cahaya di genangan air. Ini bukan lagi lomba gambar, melainkan outsourcing ilustrator kecil-kecilan.
