Anak-anak yang patuh terhadap standar mendapat piala. Yang liar dianggap kurang berbakat. Yang keluar garis dianggap bermasalah. Padahal sejarah seni modern justru dipenuhi oleh orang-orang yang berani keluar garis.
Lucunya lagi, banyak orang dewasa berkata, “Biarkan anak bebas berekspresi,” sambil berdiri di samping anak membawa penghapus, tisu, dan contoh gambar dari Pinterest. Kebebasan yang diawasi memang selalu unik. Hampir seperti rapat yang disebut demokratis, padahal keputusan sudah dibuat sebelum diskusi dimulai.
Namun kita juga perlu jujur melihat akar persoalannya. Banyak seniman daerah hidup dalam kondisi ekonomi yang tidak ideal. Di Garut misalnya, ruang seni rupa yang benar-benar mampu menopang kehidupan masih terbatas. Pameran belum tentu menghasilkan uang, kolektor belum stabil, dan apresiasi publik sering naik turun.
Baca Juga:BRI Tegaskan Dugaan Kasus KDRT Oknum Vendor di Garut Tidak Berkaitan dengan Operasional PerusahaanRutan Garut Gelar Razia Gabungan dan Tes Urine, Tegaskan Komitmen Zero HALINAR
Dalam situasi seperti itu, lomba gambar anak menjadi salah satu ruang ekonomi paling realistis untuk bertahan hidup. Dari sana ada murid kursus, ada event, ada penghasilan. Energi kreatif seniman akhirnya tersedot untuk memenuhi pasar lomba anak.
Ini situasi yang tragis sekaligus manusiawi. Seniman yang dulu bercita-cita membangun bahasa visual personal akhirnya lebih sibuk melatih teknik gradasi crayon anak TK. Bukan karena mereka tidak punya idealisme, tetapi karena tagihan listrik jarang bisa dibayar dengan konsep estetika postmodern.
Lalu apa solusinya?
Pertama, pendidikan seni harus kembali menempatkan proses di atas hasil. Guru dan orang tua perlu memahami bahwa gambar anak bukan ajang memamerkan kemampuan teknis orang dewasa yang dititipkan lewat tangan anak. Dalam pendekatan Reggio Emilia, karya anak dipandang sebagai “bahasa berpikir” yang unik. Fokusnya bukan kesempurnaan visual, melainkan bagaimana anak membangun makna.
Kedua, sistem lomba perlu berubah. Penilaian seharusnya mempertimbangkan kesesuaian usia perkembangan, orisinalitas simbol, keberanian eksplorasi, dan proses kreatif, bukan sekadar kerapihan dan realisme. Anak usia lima tahun tidak perlu kalah hanya karena belum mampu membuat efek cahaya matahari sore di sawah.
Ketiga, kampus seni dan lembaga pendidikan perlu lebih berani membumikan teori pedagogi ke masyarakat. Jangan sampai teori perkembangan seni rupa hanya hidup di ruang seminar, sementara di lapangan anak-anak tetap dipaksa menggambar sesuai template juara.
