RADARGARUT– Masyarakat Indonesia diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap hantavirus, penyakit zoonosis yang ditularkan melalui kotoran tikus dan berpotensi mematikan.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan tren kasus yang meningkat signifikan dalam dua tahun terakhir, menjadikannya ancaman kesehatan yang serius meski penularan antarmanusia masih sangat jarang.
Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menyatakan bahwa hantavirus menjadi perhatian utama karena dapat menyebabkan dua sindrom utama. Pertama, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal, dan kedua, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru.
Baca Juga:Harga Emas Turun Rp20.000: Berikut Daftar Harga Emas 11 Mei 2026iPhone 18 Pro Bakal Revolusi Besar! Ini Fitur Barunya
Di Indonesia, mayoritas kasus merupakan tipe HFRS dengan strain Seoul virus. Ini berbeda dengan kasus di kapal pesiar MV Hondius yang melibatkan strain Andes virus tipe HPS. Data Kemenkes mencatat total 23 kasus konfirmasi hantavirus sejak 2024 hingga pertengahan 2026.
Rinciannya adalah satu kasus pada 2024, melonjak menjadi 17 kasus sepanjang 2025, dan lima kasus hingga Mei 2026. Kasus tersebar di beberapa provinsi, dengan DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi wilayah dengan temuan terbanyak.
Dari total kasus tersebut, tiga pasien meninggal dunia, sehingga Case Fatality Rate (CFR) mencapai sekitar 13 persen. Virus ini termasuk dalam genus Orthohantavirus dari famili Hantaviridae.
Terdapat sekitar 50 strain yang dikenal, di mana minimal 24 di antaranya dapat menginfeksi manusia, termasuk Seoul, Andes, dan Sin Nombre virus. Penularan utama terjadi melalui inhalasi partikel udara yang terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus/celurut yang terinfeksi.
Kontak langsung dengan hewan pengerat atau lingkungan yang kotor juga menjadi faktor risiko tinggi. Gejala HFRS biasanya muncul setelah masa inkubasi 1 sampai 2 minggu, meliputi demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot dan tubuh, serta gangguan ginjal yang dapat berkembang menjadi gagal ginjal jika tidak ditangani cepat.
Pada kasus HPS, gejala pernapasan seperti sesak napas dan edema paru bisa muncul secara mendadak dan berbahaya. Meski penularan antarmanusia sangat langka dan terbatas pada strain tertentu di Amerika Selatan, Kemenkes menekankan pentingnya pencegahan primer.
Langkah utama adalah pengendalian populasi tikus di pemukiman, kantor, dan area publik. Masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan, menyimpan makanan dengan baik, menggunakan masker saat membersihkan area yang mungkin terkontaminasi kotoran tikus, serta segera mencari pengobatan jika mengalami gejala mirip flu yang disertai gangguan pernapasan atau buang air kecil.
