Ironisnya, banyak pelaku dalam praktik ini justru berasal dari dunia pendidikan seni. Di kampus mereka mempelajari Herbert Read, Piaget, Vygotsky, hingga Howard Gardner. Mereka memahami bahwa kecerdasan visual-spasial anak berkembang melalui pengalaman bermain dan eksplorasi. Mereka juga tahu bahwa seni merupakan media ekspresi, bukan sekadar produksi estetika.
Namun ketika masuk ke dunia praktik, tidak sedikit yang berubah menjadi pelatih kompetisi visual. Anak tidak lagi dipandang sebagai individu yang sedang tumbuh, melainkan sebagai “proyek piala berjalan”.
Pertanyaan yang muncul kemudian cukup mengganggu: apakah teori pedagogi seni di kampus hanya dipakai untuk menjawab ujian? Ataukah tekanan ekonomi dan sosial memang begitu besar hingga idealisme pendidikan seni akhirnya menyerah di depan spanduk bertuliskan “Juara 1 Tingkat Kabupaten”?
Baca Juga:BRI Tegaskan Dugaan Kasus KDRT Oknum Vendor di Garut Tidak Berkaitan dengan Operasional PerusahaanRutan Garut Gelar Razia Gabungan dan Tes Urine, Tegaskan Komitmen Zero HALINAR
Faktanya, banyak orang yang tidak memahami hakikat perkembangan seni rupa anak justru sangat dominan dalam ruang ini. Yang penting gambar rapi. Yang penting realistis. Yang penting warna tidak keluar garis. Anak-anak akhirnya tumbuh dengan keyakinan bahwa gambar bagus adalah gambar yang mirip contoh. Imajinasi perlahan berubah menjadi fotokopi.
Padahal dalam psikologi perkembangan, persoalan ini tidak sederhana. Jean Piaget menjelaskan bahwa anak membangun pengetahuan melalui proses konstruksi aktif. Seni rupa menjadi ruang penting bagi anak untuk mengembangkan simbol, bahasa visual, kemampuan mengambil keputusan, hingga regulasi emosi.
Ketika anak terlalu sering diarahkan, dicontohkan, bahkan diperbaiki terus-menerus, maka yang hilang bukan hanya kebebasan visual, tetapi juga rasa percaya dirinya dalam berpikir.
Lev Vygotsky juga menekankan pentingnya interaksi sosial yang mendukung zona perkembangan anak. Masalahnya, dalam banyak lomba gambar, pendampingan sering berubah menjadi dominasi.
Orang dewasa terlalu hadir. Kadang anak hanya duduk, sementara konsep gambar sudah disiapkan: ada tema lingkungan, harus ada bumi menangis, ada tangan memungut sampah, lalu ditambah burung merpati supaya terlihat damai. Anak akhirnya belajar satu hal penting sejak dini: seni adalah soal menyenangkan selera orang dewasa.
Pada titik ini, lomba gambar anak bukan lagi sekadar aktivitas kreatif, tetapi arena kuasa estetika. Michel Foucault mungkin akan tersenyum melihat bagaimana standar “gambar bagus” diproduksi, diulang, lalu dianggap normal.
