Taksi Green SM Pemicu Kecelakaan KRL Bekasi Timur Terbukti Terlambat Servis

(Disways)
Taksi Green SM yang mogok di rel terindikasi terlambat di service (Disways)
0 Komentar

RADARGARUT– Fakta baru yang mencengangkan terungkap dalam penyidikan kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat. Taksi listrik Green SM yang diduga menjadi pemicu utama insiden maut tersebut ternyata mengalami keterlambatan perawatan (maintenance) yang signifikan.

Kendaraan tersebut sudah mencapai angka 24.000 kilometer tanpa menjalani servis rutin yang seharusnya dilakukan pada 15.000 kilometer.

Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, informasi ini didapatkan berdasarkan keterangan saksi dan pemeriksaan terhadap manajemen taksi.

Baca Juga:Waspada Siklon Tropis Hagupit! BMKG Prediksi Hujan Lebat hingga Ekstrem di Sejumlah Wilayah Indonesia Hari IniAhmad Dedi Klarifikasi Usai Videonya Lari Dari Wartawan Viral: Akui Taati Proses Hukum KPK

“Kendaraan itu seharusnya masuk depot setiap 15.000 km untuk maintenance. Namun hingga 24.000 km belum dilakukan,” ujarnya kepada media pada Sabtu 9 Mei 2026.

Polda Metro Jaya kini tengah memeriksa manajemen Green SM serta PT Vinfast sebagai produsen kendaraan listrik tersebut. Kronologi kecelakaan bermula ketika taksi Green SM mogok tepat di perlintasan sebidang jalur kereta api.

Sopir yang hendak keluar dari kendaraan mengalami kesulitan karena transmisi mobil tiba-tiba berpindah ke posisi parkir. Akibatnya, mobil tidak bisa digeser dengan cepat. Tak lama kemudian, KRL Commuter Line yang melintas menabrak taksi tersebut, dan dampaknya memicu tabrakan beruntun dengan KA Anggrek (Argo Bromo Anggrek).

Insiden tragis ini menimbulkan korban jiwa dan luka-luka. Polisi telah memeriksa puluhan saksi, termasuk 39 orang dalam rangkaian penyidikan. Selain kelalaian perawatan, penyidik juga mendalami prosedur perekrutan sopir dan standar keselamatan operasional taksi listrik di lapangan.

Keterlambatan servis ini menjadi sorotan tajam karena taksi listrik Green SM merupakan armada yang relatif baru. Kendaraan listrik memang dikenal membutuhkan perawatan khusus pada baterai, sistem elektronik, dan transmisi otomatis.

Jika diabaikan, risiko mogok mendadak di jalan, termasuk di perlintasan kereta yang rawan, akan semakin tinggi. Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebelumnya menyatakan dukungan penuh terhadap proses penyidikan polisi.

KAI juga berencana mendirikan tugu memorial untuk mengenang para korban dan terus melakukan evaluasi keamanan perlintasan sebidang. Sementara itu, keluarga korban menuntut keadilan serta transparansi dari semua pihak terkait.

Baca Juga:Persib Siap Jamu Persija Di Samarinda Hari IniSempat Viral, Suspek Hantavirus di Indonesia Dinyatakan Negatif

Kasus ini kembali menyoroti pentingnya pengawasan ketat terhadap moda transportasi online, khususnya kendaraan listrik yang kini semakin masif. Kelalaian maintenance bukan hanya membahayakan sopir dan penumpang, tetapi juga pengguna jalan raya lainnya, termasuk kereta api yang membawa ratusan penumpang.

0 Komentar