RADARGARUT– Fenomena mengejutkan sedang terjadi di dunia profesional, banyak karyawan Generasi Z hanya bertahan hitungan bulan sebelum dipecat (PHK). Perusahaan semakin vokal mengeluhkan etos kerja dan mentalitas generasi muda yang dianggap tidak sesuai dengan tuntutan industri.
Survei dari Intelligent mengungkap fakta mencengangkan, enam dari sepuluh perusahaan pernah memberhentikan karyawan Gen Z dalam waktu singkat setelah perekrutan.
Profesor New York University (NYU), Suzy Welch, menyebut ini sebagai gambaran perubahan besar dalam dunia kerja modern. Menurutnya, perusahaan masih mencari talenta dengan karakter kompetitif, fokus pada target, serta dorongan kuat untuk berkembang dan berprestasi.
Baca Juga:PKL Masih Bandel Langgar Jam Operasional Di Jalan MerdekaPolemik Cukur Paksa Dinyatakan Selesai! Orang Tua, Siswa hingga Guru Saling Memaafkan
Sementara itu, sebagian besar Gen Z justru memprioritaskan keseimbangan hidup (work-life balance), kesehatan mental, dan kebebasan mengekspresikan diri.
Riset Welch yang melibatkan sekitar 200 ribu responden menggunakan alat pemetaan nilai The Values Bridge menemukan bahwa hanya sekitar 2 persen Gen Z yang memiliki nilai-nilai yang paling diinginkan perusahaan. Tiga nilai utama yang dijunjung generasi ini adalah perawatan diri (self-care), kebebasan berekspresi, dan keinginan membantu orang lain. Di sisi lain, perusahaan menghargai orientasi prestasi, loyalitas, fokus kerja, dan semangat pengembangan diri.
Perbedaan nilai ini menciptakan benturan budaya yang semakin nyata. Banyak Gen Z mempertanyakan budaya kerja generasi sebelumnya yang dianggap terlalu mengorbankan kehidupan pribadi.
Mereka melihat orang tua mereka bekerja keras puluhan tahun, tapi tetap rentan terhadap ketidakpastian ekonomi dan PHK di usia matang. Akibatnya, generasi ini lebih tegas membangun batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Namun, realitas dunia kerja tetap keras. Perusahaan membutuhkan karyawan yang mampu bekerja di bawah tekanan target, cepat beradaptasi dengan perubahan, dan menghasilkan output yang optimal.
Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) semakin memperketat persaingan, karena banyak tugas rutin dapat digantikan mesin, sehingga perusahaan semakin selektif mencari talenta yang tangguh.
Dampaknya sudah terlihat dari data Federal Reserve New York yang mencatat tingkat pengangguran fresh graduate di Amerika Serikat mencapai 5,7 persen pada akhir 2025 lebih tinggi dibanding kelompok usia lain. Di Indonesia, isu serupa juga mulai muncul, dengan banyak perusahaan mengeluhkan disiplin, motivasi, dan kemampuan adaptasi Gen Z.
