RADARGARUT– Pasar keuangan dalam negeri kembali diguncang oleh badai ketidakpastian global. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan rekor sejarah yang kelam pada perdagangan Kamis pagi 23 April 2026.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, mata uang Garuda terkulai hingga menembus level psikologis baru di atas Rp 17.300 per dolar AS.
Berdasarkan data Refinitiv pada pukul 09.32 WIB, rupiah terpantau melemah signifikan sebesar 0,79% ke level Rp 17.305/US$.
Baca Juga:EA Sports Rilis Kode Redeem FC Mobile Terbaru Edisi April 2026: Dapatkan Pemain Bintang dan Pack Gratis!Sejarah Hari Buku Sedunia 23 April
Angka ini tidak hanya menunjukkan depresiasi harian yang tajam, tetapi juga menjadi posisi terlemah rupiah sepanjang masa secara intraday, melampaui titik-titik krisis yang pernah dialami Indonesia sebelumnya.
Ketidakpastian Global Jadi Pemicu UtamaMerespons kejatuhan nilai tukar ini, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, angkat bicara untuk memberikan penjelasan sekaligus menenangkan pasar.
Menurut Destry, pelemahan yang terjadi bukan disebabkan oleh faktor fundamental ekonomi domestik yang buruk, melainkan murni akibat faktor eksternal yang sangat dominan.
”Tekanan pada Rupiah yang terjadi sejak pagi tadi lebih banyak karena meningkatnya ketidakpastian global. Mata uang regional pun mengalami tekanan yang serupa, sehingga rupiah tidak sendirian dalam menghadapi situasi ini,” ungkapnya pada media.
Ketidakpastian ini merujuk pada beberapa sentimen global yang memanas, terutama eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Konflik tersebut telah memicu pelarian modal ke aset-aset aman, yang dalam hal ini adalah dolar AS, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Strategi Intervensi “All Out” Bank IndonesiaMenghadapi situasi darurat ini, Bank Indonesia memastikan tidak akan tinggal diam.
Baca Juga:Gebyar Pesona Budaya Garut 2026 Usung Misi "Waste Less" di Jantung KotaUsung Tema 'Our Power, Our Planet': Ini Makna Hari Bumi 2026
Destry menegaskan bahwa bank sentral akan terus meningkatkan intensitas intervensi di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak meluncur lebih dalam tanpa arah.
Strategi yang diterapkan BI mencakup intervensi di tiga lini pasar sekaligus:
Pasar Spot: Intervensi langsung dengan menyediakan pasokan valuta asing.
Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF): Menjaga ekspektasi kurs di pasar domestik.
Pasar Sekunder: Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) untuk menjaga imbal hasil tetap menarik bagi investor asing.
