Tradisi Tahunan, Jalan Gatot Subroto di Garut Dipenuhi Pedagang Takjil

Ale/radar garut
Pengunjung berburu takjil membludak di Jalan Gatot Subroto Garut. (Ale/radargarut)
0 Komentar

GARUT – Tradisi tahunan di bulan suci Ramadan kembali mewarnai suasana di Jalan Gatot Subroto, tepatnya di Perumahan Bumi Cempaka Indah, Karangpawitan, Kabupaten Garut.

Di sepanjang jalan tersebut dipadati pedagang takjil musiman yang menjajakan beragam menu untuk berbuka puasa.

Hampir seluruh jenis makanan takjil tersedia di lokasi ini, mulai dari aneka gorengan, kolak, es buah, hingga makanan berat lainya.

Baca Juga:HNSI Sarankan Pelabuhan Garut Dibangun di Rancapadu, Bukan Cilaut EreunZakat Fitrah ASN Garut Berpotensi Tembus Rp600 Juta, Baznas Minta Bupati Terbitkan SE

Setiap sore menjelang waktu berbuka, kawasan tersebut ramai dikunjungi warga yang berburu makanan takjil untuk berbuka puasa.

Namun, suasana tahun 2026 ini terasa berbeda dibandingkan tahun sebelumnya.

Jumlah pedagang musiman kali ini meningkat drastis hingga menyebabkan kepadatan arus lalu lintas.

Lapak-lapak yang berjejer di sepanjang jalan membuat badan jalan menyempit dan memicu kemacetan, terutama pada pukul 16.00 WIB hingga menjelang azan Magrib.

Selain meningkatnya jumlah pedagang, tahun ini juga diterapkan kebijakan iuran bagi para penjual. Jika sebelumnya para pedagang dapat berjualan tanpa dipungut biaya alias gratis, kini setiap lapak dikenakan iuran sebesar Rp3.000 yang akan dimasukkan ke kas RW setempat.

Sementara itu, pedagang yang berjualan tepat di teras atau di depan rumah warga dikenakan tarif lebih tinggi, yakni Rp10.000 per lapak.

Ade, seorang pedagang yang sehari-hari berjualan bubur ayam, mengaku memanfaatkan momen Ramadan dengan beralih menjual gorengan. Ia mengatakan, bahwa dagangannya laris manis setiap hari.

“Alhamdulillah, gorengan cepat habis. Pembeli ramai terus menjelang buka puasa, nih sampai dibantu istri,” ujar Ade, Selasa, 3 Maret 2026.

Baca Juga:Kemenhaj Garut Pastikan Jemaah Umrah Tertangani Pemerintah RI di Tengah Konflik Wilayah Timur TengahDisperkim Garut Tegaskan Program Rutilahu Wajib Masuk DTSEN Desil 1–3

Hal senada disampaikan Shanda bersama rekanya bernama Bunga, salah satu pedagang musiman penjual donat dan dimsum yang hanya berjualan dan memanfaatkan momentum di bulan ramadhan saja.

Keduanya mengaku tidak merasa keberatan harus membayar iuaran sebesar Rp 3.000, karena daganganya selalu habis terjual.

“Oh gapapa, alhamdulillah dari awal sampai hari ini selalu laris, paling nyisa 2 atau 3,” ucapnya.

Di sisi pembeli, momentum tersebut menjadi salah satu momen menyenangkan, selain bisa membeli takjil apapun yang diinginkan, momentum berburu takjil juga menjadi hiburan tersendiri sembari ngabuburit.

0 Komentar