GARUT – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Garut menyoroti fenomena masyarakat yang meminta status sosial ekonominya diturunkan agar masuk dalam kelompok penerima bantuan sosial (bansos). Bahkan, warga yang sebenarnya berada dalam kategori mampu disebut ada yang berupaya masuk ke kelompok desil rendah supaya berpeluang memperoleh bantuan pemerintah.
Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian Dinsos Garut dalam meningkatkan akurasi Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DT-SEN), sekaligus memastikan program bantuan sosial benar-benar menyasar masyarakat yang membutuhkan.
Kepala Dinsos Kabupaten Garut, Marlinda Siti Hana, mengungkapkan bahwa masih ditemukan persoalan terkait pemahaman masyarakat terhadap pengelompokan status sosial ekonomi dalam DT-SEN.
Baca Juga:Angkut Ratusan Ribu Batang Rokok Ilegal, Warga Cigedug Ditahan Kejari GarutJaga 856 Hektare Hutan, Desa Sukamurni Garut Kembangkan Wisata Berbasis Kearifan Leluhur Sunda
Menurutnya, terdapat warga yang sebenarnya berada pada kelompok Desil 6 hingga 10, tetapi menginginkan agar statusnya berubah menjadi Desil 1 hingga 5.
Padahal, pengelompokan desil tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan permintaan masyarakat, melainkan harus melalui proses pengolahan dan pemutakhiran data sesuai kondisi sosial ekonomi yang sebenarnya.
Marlinda menyampaikan hal tersebut saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelolaan DT-SEN bagi operator Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation (SIKS-NG) tingkat desa dan kelurahan di Aula Dinsos Garut, Jalan Patriot, Kecamatan Tarogong Kidul, Kamis (5/11/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Marlinda menekankan pentingnya ketelitian para operator dalam melakukan penginputan, pemeriksaan, dan pembaruan data masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa kualitas data menjadi faktor penting dalam menentukan ketepatan sasaran berbagai program perlindungan sosial.
Karena itu, operator diminta tidak hanya mengandalkan informasi administratif, tetapi juga melakukan pemeriksaan langsung untuk memastikan kesesuaian data dengan kondisi masyarakat di lapangan.
“Harus ada check and recheck serta ground check (pengecekan langsung ke lapangan) yang dilakukan oleh adik-adik operator,” tegas Marlinda.
Baca Juga:Taktik Jitu Igor Tolic Bawa Persib Ukir Sejarah di Australia, Menalo Ungkap Kunci Kebangkitan Maung BandungDari Becak Listrik hingga Bunga untuk Pengendara, Polantas di Garut Mengajak Warga Tertib Berlalulintas
Untuk memperkuat pengelolaan data tersebut, Dinsos Garut menggelar pelatihan bagi 442 operator SIKS-NG yang berasal dari seluruh desa dan kelurahan di Kabupaten Garut.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan teknis para operator dalam mengelola dan memperbarui data sosial ekonomi masyarakat.
Marlinda mengatakan, operator desa dan kelurahan memiliki peran penting karena menjadi salah satu pihak yang berhadapan langsung dengan masyarakat serta mengetahui perkembangan kondisi sosial ekonomi di wilayah masing-masing.
