Terbantu Program Satu Desa Satu Sarjana, Orangtua Mahasiswa di Garut Tak Pikirkan Biaya Lagi

Tini (48) orangtua Raihana penerima program satu desa satu sarjana di Kabupaten Garut. (Rizka/Radar Garut)
Tini (48) orangtua Raihana penerima program satu desa satu sarjana di Kabupaten Garut. (Rizka/Radar Garut)
0 Komentar

GARUT – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut, terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui program Satu Desa Satu Sarjana yang menjadi salah satu program Bupati dan Wakil Bupati Garut Syakur-Putri.

Program ini diharapkan dapat membuka akses pendidikan tinggi bagi masyarakat, khususnya bagi keluarga yang kurang mampu agar tetap memiliki kesempatan lebih luas untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Program tersebut dirasakan oleh Raihana Dewi Siti Aisyah mahasiswa dari Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Fakultas PGSD, yang merupakan warga Kampung Sudika Indah, RW 13/RT 2, Desa Haurpanggung, Kecamatan Tarogong Kidul.

Baca Juga:Pemkab Garut Siapkan Rp9 Miliar Untuk Pembelian Lahan Sekolah Rakyat di SamarangMemasuki Musim Tanam Penghujan, Dispertan Garut Siapkan Lahan Padi 36.580 Hektare

Tini (48) ibu dari Raihana, mengatakan pihaknya sangat terbantu dengan adanya program tersebut, khusus bagi keluarga menengah kebawah.

“Alhamdulillah sangat membantu ya, khususnya untuk keluarga seperti saya menengah ke bawah, jadi tidak memikirkan biaya lagi, sudah ditanggung semuanya,” ujarnya saat diwawancarai belum lama ini di Kantor Desa Haurpanggung.

Ia mengatakan, ketika awal masuk kuliah semuanya sudah ditanggung oleh program tersebut, namun hanya ada pembayaran untuk biaya magang.

“Pas masuk pertama itu semuanya gratis tidak ada pembayaran, cuman kemarin aja pas mau magang diminta biaya Rp500 ribu,” katanya.

Tini menjelaskan, program tersebut sangat membantu bagi keluarganya yang masuk ke desil 5, pekerjaan suaminya pun hanya serabutan atau freelance.

“Kerja suami saya itu Freelance kaya serabutan gitu, ya sekitar 1 sampai 2 juta perbulan yah,, yang ditanggung cuman 1 ini anak yang kedua, saya itu kemarin desil 5 ya,” jelasnya.

Menurut Tini, program tersebut juga sangat terbantu oleh pihak desa secara keseluruhan dari awal pemberkasan hingga pendaftaran, dirinya hanya mempersiapkan berkas anaknya sebagai persyaratan yang diminta.

Baca Juga:Hari Ke 11 Tanggap Darurat, BPBD Garut Genjot Pemulihan Pasar Andir dan Pembasahan di TPA Pasir BajingJelang Akhir Masa Jabatan, Ketua BAZNAS Garut Ungkap Penghimpunan Zakat Capai Rp13 Miliar

“Saya awalnya emang dibantu sama pihak desa, saya cuman mengumpulkan saja apa yang dibutuhkan untuk persyaratan, jadi pihak desa yang mengurus semuanya,” ungkap Tini.

Sebagai persyaratan program tersebut, kata dia, hanya nilai raport, ijazah SMA keseluruhan, dan mengenai desil.

Tini berharap, bahwa program ini harus berlanjut, dikarenakan masih banyak keluarga menengah kebawah yang membutuhkan pendidikan untuk anaknya.

0 Komentar