Prajurit TNI AU Muda Tewas Diduga Dikeroyok Senior Gegara Salah Beli Mie

(Istimewa)
Foto dokumentasi Serda Ahmad bersama ayahnya (Istimewa)
0 Komentar

RADARGARUT– Kabar duka menyelimuti keluarga di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Serda Ahmad Muzammul Farisa (AMF), prajurit muda TNI Angkatan Udara yang baru sekitar setahun mengabdi, meninggal dunia secara tidak wajar.

Ayahnya, Toni Eko Prasetyo, yang menjabat Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Kabupaten Madiun, mengungkapkan dugaan kuat bahwa putra sulungnya menjadi korban penganiayaan oleh empat orang senior di asrama.

Menurut keterangan Toni, peristiwa bermula dari permintaan sepele. Pada Rabu malam, 9 September 2026, sekitar pukul 23.00 WIB, Serda Ahmad diminta seniornya membeli makanan. Ia diperintahkan membelikan mie goreng. Namun, yang dibawa justru mie kuah. Perbedaan menu ini diduga memicu kemarahan senior.

Baca Juga:Bosan Main Game Online? Coba 3 Game Offline Ini yang Bikin Ketagihan Tanpa Kuota!Sar Bagi Enam Zona Wilayah Dalam Misi Mencari 5 Jurnalis Hilang Dalam Liputan Gunung Anak Krakatau

Penganiayaan pertama diduga terjadi saat itu, lalu berlanjut lagi pada Kamis dini hari, 10 September 2026, sekitar pukul 03.00 WIB. Empat senior yang diidentifikasi keluarga sebagai Serda MTSA, Serda JM, Serda MAD, dan Serda AH diduga terlibat dalam aksi di asrama kompleks Skadron Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, tepatnya di area Mess Psikologi Galaksi.

Toni mendapat kabar kematian anaknya sekitar pukul 04.00 WIB. Awalnya informasi yang masuk menyebut penyebabnya kecelakaan. Namun, rekan almarhum kemudian memberi keterangan berbeda: putranya diduga dianiaya senior.

“Dari informasi yang saya dapat, anak saya disuruh membeli makanan yang tidak sesuai permintaan senior. Mintanya mi goreng namun diberikan mi kuah,” tutur Toni dengan mata sembab kepada detikJatim.

Ia juga menyebut luka-luka yang terlihat pada jenazah yautu memar di bagian dagu wajah dan dada. Jenazah Serda Ahmad sempat menjalani autopsi di Jakarta karena kematiannya dianggap tidak wajar.

Setelah proses itu selesai, jenazah diterbangkan dari Lanud Halim Perdanakusuma ke Bandara Juanda, Surabaya, lalu diantar darat menuju Magetan. Ia tiba di rumah duka sekitar pukul 01.00 WIB dini hari Jumat, 11 September 2026.

Kedatangan itu diwarnai isak tangis keluarga, terutama ibu almarhum, Retno Setio Rini, yang nyaris pingsan saat melihat jenazah putranya diturunkan dari ambulans. Almarhum merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.

Toni Eko Prasetyo secara terbuka meminta keadilan. Ia memohon kepada Presiden Prabowo Subianto, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), serta pejabat terkait agar kasus ini diusut tuntas tanpa ada intimidasi.

0 Komentar