Leuweung Ruksak, Paru-Paru Sesak:  Menagih Logika Ngarumat Jagat di Tanah Garut

istimewa
Wandi Wardiana Rahayu - Dosen STIT QA Garut
0 Komentar

Oleh: Wandi Wardiana Rahayu – Dosen STIT QA Garut

Sulap Asap di Swiss van Java: Ketika Sampah Garut Menolak Lenyap

ADA sebuah keahlian misterius yang diam-diam dikuasai sebagian warga kita di Kabupaten Garut setiap pagi: bakat bermain sulap. Keterampilan ini tidak dipelajari dari sekolah akrobat, melainkan turun-temurun di pekarangan rumah dan pinggir selokan.

Begitu seikat kantong kresek hitam disulut korek api atau dilempar ke parit saat azan Subuh berkumandang simsalabim sampah itu dianggap resmi lenyap dari muka bumi. Masalah selesai, pekarangan bersih mengilap, dan kita bisa kembali menyeduh kopi dengan tenang.

Benarkah begitu? Sayangnya, hukum fisika dan kimia tidak mengenal atraksi sulap. Sampah tersebut tidak pernah benar-benar lenyap; ia hanya berganti wujud menjadi racun yang setia menunggu waktu untuk berbalik menyapa kita di meja makan atau saluran pernapasan.

Baca Juga:2 Pekan 12 Kasus Narkoba dan OKT Diungkap, Polisi Amankan 16 TersangkaPerhutani Garut sebut Aktivitas Manusia Jadi Pemicu Utama Karhutla

TPA Pasir Bajing yang “Kolesterol Akut”

Di balik eloknya lanskap pegunungan yang membuat Garut dijuluki Swiss van Java, wilayah ini sesungguhnya sedang memproduksi sekitar 1.000 hingga 1.200 ton sampah per hari. Beban seberat ribuan kuintal itu jika dibayangkan tentu bukan tumpukan kapas.

Celakanya, armada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) baru mampu mengangkut dan mengelola kurang dari 30 persen dari total timbunan tersebut. Itu pun layanannya masih terkonsentrasi di kawasan ring-one perkotaan, seperti Garut Kota, Tarogong Kaler, dan Tarogong Kidul.

Lantas, ke mana larinya sisa 70 hingga 75 persen sampah lainnya?

Di sinilah ironi terjadi. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Pasir Bajing yang menjadi muara akhir sudah bertahun-tahun mengalami “kolesterol akut” alias overcapacity parah dan masih beroperasi dengan sistem semi-open dumping.

Akibat daya tampung formal yang megap-megap, sebagian besar sampah Garut berstatus unmanaged waste alias sampah liar. Pilihan warga akhirnya jatuh pada dua jalur kilat: kalau tidak dilempar ke Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk, ya dibakar ramai-ramai di halaman.

Kita sering mengidap sindrom out of sight, out of mind yakni merasa urusan beres hanya karena tumpukan limbah tak lagi tampak di depan pelataran rumah. Padahal secara epistemologis, tindakan itu sekadar memindahkan materi kotor ke ruang publik, menzalimi tetangga hilir, atau menabur racun ke udara yang dihirup anak cucu sendiri.

0 Komentar