Kita bisa belajar dari tetangga sebelah, Kabupaten Ciamis, yang sukses memboyong Adipura Kencana kategori kota kecil. Kuncinya bukan teknologi luar angkasa bernilai ratusan miliar, melainkan rekayasa sosial: warganya mandiri memilah sampah sejak dari dapur, TPS-3R dihidupkan, dan sampah organik dilahap larva maggot di tingkat RT dan desa. Sampah selesai di hulu, bukan ditumpuk di hilir.
Mengembalikan Martabat Ngarumat Jagat
Bagi masyarakat Garut di tatar Pasundan, etika ekologis sejati sesungguhnya tidak memerlukan impor filsafat barat yang rumit. Karuhun Sunda sudah merumuskan peringatan tajam: “Leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak” (hutan rusak, air habis, manusia sengsara).
Menata kembali ruang hidup menuntut keterpaduan tiga pilar Tri Tangtu di Bumi:
Baca Juga:2 Pekan 12 Kasus Narkoba dan OKT Diungkap, Polisi Amankan 16 TersangkaPerhutani Garut sebut Aktivitas Manusia Jadi Pemicu Utama Karhutla
- Sanghyang Prabu (Pemerintah): Perlu ada regulasi desa (Perdes) yang tegas melarang penimbunan dan pembakaran liar, lengkap dengan sanksi sosial serta infrastruktur bank sampah tingkat RW.
- Sanghyang Batara (Pemuka Agama): Mengingatkan jamaah di majelis taklim bahwa asap pembakaran yang meracuni pernapasan tetangga melanggar kaidah ushul fiqih la dharara wa la dhirar (tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain). Mengotori bumi adalah maksiat ekologis, sementara memilah sampah bisa menjadi sedekah jariyah.
- Sanghyang Rama (Masyarakat): Menguji kembali lima karakter luhur Manusa Sunda dalam kehidupan harian:
- Cageur: Sehat raga dan batin karena tidak meracuni napas keluarga lewat asap bakar sampah.
- Bageur: Berakhlak baik dengan tidak mengirim limbah kresek ke selokan tetangga sebelah.
- Bener: Disiplin memilah antara organik dan anorganik langsung dari wadah dapur.
- Singer: Cekatan mengubah sisa sayur menjadi kompos pekarangan yang menyuburkan tanah.
- Pinter: Cerdas memanfaatkan Bank Sampah agar barang rongsok terkonversi menjadi nilai rupiah.
- Kebersihan: Simbol Martabat, Bukan Pajangan Lemari
Kebersihan lingkungan Garut pada akhirnya bukan perlombaan mengejar piala Adipura untuk dipajang manis di lemari kaca kantor bupati. Ukuran keberadaban kita diuji dari hal-hal sederhana: apakah anak-anak kita bisa berlari pagi tanpa menghirup racun dioksin, dan apakah air sungai Cimanuk mengalir murni tanpa jeratan popok bekas serta kantong kresek.
