Leuweung Ruksak, Paru-Paru Sesak:  Menagih Logika Ngarumat Jagat di Tanah Garut

istimewa
Wandi Wardiana Rahayu - Dosen STIT QA Garut
0 Komentar

Kimia Pembakaran: Memanggang Racun di Halaman Sendiri

Banyak yang mengira membakar sampah adalah solusi higienis paling murah meriah. Namun jika dibedah lewat kacamata toksikologi, tindakan ini ibarat mengundang laboratorium racun ke halaman sendiri.

Ketika plastik kemasan dan PVC dibakar pada suhu rendah pekarangan (200°C–400°C), api tersebut tidak melenyapkan plastik, melainkan melepaskan senyawa Polychlorinated Dibenzo-p-dioxins (PCDDs) dan Dibenzofurans (PCDFs). Dua senyawa ini bukan aroma sedap pemanggang sate, melainkan zat karsinogenik golongan 1 pemicu kanker, mutasi genetik, hingga perusak sistem hormonal.

Belum lagi pelepasan partikulat halus yang diameternya begitu renik sehingga sanggup meluncur mulus melewati bulu hidung, menembus alveolus paru, dan masuk ke aliran darah.

Baca Juga:2 Pekan 12 Kasus Narkoba dan OKT Diungkap, Polisi Amankan 16 TersangkaPerhutani Garut sebut Aktivitas Manusia Jadi Pemicu Utama Karhutla

Riset kesehatan menunjukkan anak-anak yang tumbuh di lingkungan pembakaran sampah pekarangan memiliki risiko terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) 2,5 hingga 3 kali lebih tinggi. Sungguh harga yang terlalu mahal hanya demi memusnahkan seonggok kresek mie instan.

Hal yang sama terjadi pada sampah yang dihanyutkan ke selokan sawah. Plastik tidak mati di air; ia terdegradasi menjadi mikroplastik (< 5 mm) yang meracuni mikroorganisme tanah, menekan populasi cacing tanah (Lumbricus rubellus) hingga 30–45 persen, serta merusak daya ikat air lahan pertanian sawah.

Partikel renik ini kemudian diserap akar padi dan sayuran, hingga akhirnya kembali mendarat di piring nasi keluarga kita. Jadi, saat Anda membuang sampah ke sungai, sebetulnya Anda sedang menabung mikroplastik untuk menu sarapan beberapa bulan ke depan.

Menata “Oikos” dan Menanggalkan Solusi Tambal Sulam

Secara etimologis, istilah ekologi dicetuskan oleh biolog Ernst Haeckel (1866) dari kata Yunani oikos (rumah tangga atau ruang hidup bersama) dan logos (ilmu/nalar). Rumah bersama kita sedang bocor dan penuh jelaga. Menyelesaikannya jelas tidak bisa sekadar menuntut bupati menambah ratusan armada truk sampah baru atau memindahkan TPA ke lereng bukit tetangga.

Filsuf Arne Naess menyebut upaya reaktif semacam itu sebagai shallow ecology (ekologi dangkal): repot mencari solusi teknokratis sesaat tanpa pernah berani mengoreksi cara hidup boros dan pola pikir konsumtif kita. Ini ibarat orang yang berat badannya melonjak drastis, tetapi alih-alih berolahraga dan diet, ia justru sibuk membeli celana berukuran lebih longgar.

0 Komentar