Waspada! Silika dalam Abu Vulkanik Anak Krakatau Bisa Picu Silikosis, Ancaman Serius bagi Paru-paru

(Istimewa)
Bahaya dari kandungan erupsi anak gunung krakatau (Istimewa)
0 Komentar

RADARGARUT– Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi baru-baru ini tidak hanya mengganggu aktivitas penerbangan dan kehidupan sehari-hari masyarakat di wilayah sekitar, tetapi juga membawa ancaman tersembunyi yang perlu diwaspadai, yaitu kandungan silika dalam abu vulkanik yang berpotensi membahayakan kesehatan paru-paru.

Abu vulkanik yang tersebar akibat erupsi gunung api ini diketahui mengandung senyawa silika atau silikon dioksida (SiO₂). Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) sekaligus dokter spesialis penyakit dalam, Prof. Ari Fahrial Syam, menekankan pentingnya masyarakat untuk memahami risiko ini.

Menurutnya, persoalan utama yang harus diperhatikan bukan sekadar keberadaan abu, melainkan kandungan material di dalamnya, khususnya silika dalam bentuk respirabel (partikel yang sangat halus dan dapat terhirup hingga ke dalam paru-paru).

Baca Juga:209 Penerbangan Bandara Soekarno-Hatta Dibatalkan Imbas Dari Gunung Anak Krakatau ErupsiWaspada Hujan Abu Vulkanik! 5 Langkah Ampuh Lindungi Kesehatan Anda dan Keluarga

“Paparan silika respirabel yang signifikan dan berlangsung lama dapat menyebabkan silikosis, yaitu penyakit paru akibat penumpukan partikel silika yang menyebabkan peradangan dan jaringan parut pada paru,” jelas Prof. Ari.

Silikosis merupakan penyakit paru kronis yang berkembang secara perlahan. Partikel silika yang terhirup akan menumpuk di jaringan paru, memicu reaksi inflamasi, dan akhirnya membentuk jaringan parut (fibrosis).

Kondisi ini dapat mengurangi kapasitas paru-paru untuk mengikat oksigen, menimbulkan gejala seperti sesak napas, batuk kronis, nyeri dada, hingga kelelahan yang berkepanjangan. Dalam kasus berat, silikosis dapat meningkatkan risiko komplikasi serius seperti tuberkulosis, gagal napas, bahkan kanker paru.

Penelitian sebelumnya terhadap material erupsi Gunung Anak Krakatau memang telah menunjukkan adanya kandungan silikon dioksida dalam kadar yang cukup signifikan.

Meskipun belum ada data resmi terbaru mengenai konsentrasi silika pada erupsi kali ini, Prof. Ari mengingatkan bahwa potensi bahaya tetap ada, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan mereka yang memiliki riwayat penyakit pernapasan seperti asma atau PPOK.

Bahaya silika tidak selalu muncul secara instan. Gejala gangguan pernapasan akibat paparan debu vulkanik bisa muncul dalam 1–2 minggu setelah terpapar. Oleh karena itu, kewaspadaan harus dijaga dalam jangka waktu yang lebih panjang, bukan hanya saat abu terlihat tebal di udara.

0 Komentar