RADARGARUT– Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu dini hari, 15 Agustus 2026, meninggalkan duka mendalam bagi ribuan warga.
Pusat gempa berada di laut sekitar 30–38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer. Guncangan kuat yang berlangsung sekitar satu menit itu dirasakan di sejumlah kabupaten di Pulau Flores, bahkan hingga Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga pukul 15.00 WIB pada hari yang sama, jumlah korban meninggal dunia mencapai 38 orang.
Baca Juga:Pemerintah Alokasikan Lebih Dari 800 Triliun Dana Pendidikan Dalam RABN 2027Promo Spesial HUT RI ke-81: Diskon 17% Tiket Kereta Api dan Tarif Rp8 untuk KRL serta LRT
Rinciannya, 17 orang di Kabupaten Manggarai Timur, 16 orang di Kabupaten Manggarai, 3 orang di Kabupaten Sikka, serta masing-masing 1 orang di Kabupaten Ende dan Kabupaten Manggarai Barat.
Beberapa nama korban yang telah teridentifikasi antara lain Meliana Nenong, Bernardus Muda, dan Sofia di Sikka; Stefanus, Fabian, Neno, Resni, Manus, dan Yul di Manggarai; serta Martina Wona di Ende. Sebagian besar jenazah lainnya masih dalam proses identifikasi.
Selain korban jiwa, dua orang mengalami luka berat dan 11 orang luka ringan. Sekitar 2.000 warga terpaksa mengungsi secara mandiri karena rumah mereka rusak atau khawatir terhadap gempa susulan.
Banyak di antara mereka kehilangan tempat tinggal dalam sekejap. Rumah-rumah di sejumlah desa ambruk atau retak parah, fasilitas kesehatan seperti puskesmas rusak, dan satu rumah sakit di Maumere mengalami kerusakan. Pelabuhan di Maumere dan Reo juga terdampak, menghambat akses logistik dan evakuasi.
Gempa yang dipicu aktivitas Flores Back-Arc Thrust ini sempat memicu peringatan dini tsunami. BMKG menetapkan status siaga di beberapa wilayah pesisir, dengan potensi gelombang 0,5–3 meter. Tsunami kecil terdeteksi di beberapa titik, termasuk ketinggian hingga 0,94 meter di Maurole, Ende.
Peringatan tsunami dicabut pada pukul 07.30 WIB setelah tidak ada kenaikan muka air laut yang signifikan. Namun, gempa susulan terus terjadi. Hingga sore hari, tercatat puluhan hingga lebih dari seratus gempa susulan, beberapa di antaranya bermagnitudo 6,2.
Kondisi di lapangan masih sulit. Akses jalan di sejumlah titik tertutup longsor. Warga di tenda-tenda darurat atau rumah kerabat menghadapi keterbatasan air bersih, makanan, dan listrik. Banyak yang kehilangan harta benda dan sumber penghidupan.
