GARUT – Gelaran Garut International Kite Festival (GIKF) 2026 di Agro Wisata Tepas Papandayan, Cisurupan, mendulang sorotan tajam.
Di balik hadirnya peserta dari 13 negara dan 4.000 pengunjung, event internasional pertama di Garut ini diwarnai keluhan masyarakat yang viral di media sosial, terutama terkait harga tiket Rp45.000 yang dinilai kemahalan serta sepinya pembeli bagi para pelaku UMKM.
Menanggapi hal tersebut, Ketua DPRD Kabupaten Garut, Aris Munandar, mendesak adanya evaluasi menyeluruh. Ia menyoroti pentingnya penyesuaian tarif agar tidak memberatkan warga.
Baca Juga:Kemeriahan Garut International Kite Festival 2026: Dihadiri 13 Negara hingga Rencana Jadi Agenda Tahunan63 Bangunan KDKMP di Garut Sudah Dibangun, Ratusan Pembangunan Terkendala Lahan
“Kemarin ada isu bahwa tiketnya terlalu mahal, ini mungkin jadi evaluasi ke depan, mungkin standarisasi di Kabupaten Garut supaya masyarakat antusias juga perlu dukungan-dukungan hal-hal seperti itu atau misalkan tiket yang murah,” ungkap Aris.
Mengenai keluhan pedagang, Aris menilai sepinya lapak merupakan dampak dari pengunjung yang tak sesuai harapan. Namun, ia yakin potensi ekonomi acara ini sebenarnya bisa ditingkatkan.
“Ya saya yakin ketika ada kolaborasi dengan Forkopimda, Forkopimcam, semua masyarakat Kabupaten Garut, ini akan mengundang antusias masyarakat, sehingga jangan khawatir kepada UMKM,” katanya.
Sorotan senada disampaikan Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Komisi II, Dede Kusdinar. Ia menekankan agar kekurangan pada event perdana ini dijadikan bahan pembelajaran bersama antarinstansi.
“Harus ada simbiosislah dari berbagai OPD yang ada bagaimana kita menjadi tuan rumah yang baik, mempersiapkan dari segi infrastratruktur dari segi pelayanan masyarakat nya,” kata Dede.
Dede berharap jajaran pemerintah daerah bersedia mengevaluasi setiap celah kekurangan.
“Mudah-mudahan dengan hadirnya pak bupati, ibu wabup kita bisa bercermin lah gitu apa kekurangannya kita perbaikin kedepannya,” tegasnya.
Merespons berbagai masukan, Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, memaklumi kendala teknis tersebut karena masa persiapan yang terbilang singkat, yakni empat bulan.
Baca Juga:Pemkab Garut Perketat Perizinan Perumahan, Kajian Kebencanaan Jadi Syarat Penting Distan Garut: Asuransi Mikro Terhenti Karena Anggaran Terbatas dan Kurangnya Kemandirian Petani
“Ya ini kan sebenarnya kan, ya saya bilang ini pertama ya, selalu ada saja kekurangan. Masalah tiketing juga kan, kalau kita lihat kita bisa mendatangkan tamu-tamu dari luar bukan biaya kecil,” dalih Syakur.
Ia membeberkan bahwa penetapan tiket dan skema acara berada di bawah wewenang penyelenggara (Event Organizer), mengingat GIKF merupakan acara mandiri tanpa kucuran khusus APBD Garut.
