Biaya Kuliah Tinggi, Ribuan Calon Mahasiswa di Indonesia Tak Mampu Akses Pendidikan Tinggi

(Unsplash/radargarut.id)
Puluhan ribu calon maba tak lanjut kuliah karena biaya kuliah tinggi (Unsplash/radargarut.id)
0 Komentar

RADARGARUT– Fenomena ribuan siswa yang berhasil lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) namun memilih tidak melakukan daftar ulang di perguruan tinggi negeri (PTN) kembali menjadi sorotan publik.

Pada SNPMB 2026, isu sekitar 60 ribu kursi kosong sempat ramai dibahas. Meski Ketua Umum SNPMB Eduart Wolok menegaskan bahwa angka tersebut merupakan akumulasi dari seluruh jalur (SNBP, SNBT, dan mandiri) pada tahun sebelumnya, bukan hanya SNBP 2026 saja, persoalan ini tetap mencerminkan tantangan struktural dalam akses pendidikan tinggi di Indonesia.

Daya tampung SNBP tahun ini mencapai 189.017 kursi untuk program D3, D4, dan S1. Sementara itu, jumlah pendaftar SNBP terus meningkat signifikan, dari 702.312 siswa pada 2024 menjadi 806.242 siswa pada 2026.

Baca Juga:Rombak Target Prioritas MBG: BGN Umumkan 4 Kelompok Target Prioritas Penerima MBGKabar Baik! Harga Emas dan Perak Akhirnya Bangkit Kembali

Lonjakan minat ini menunjukkan antusiasme generasi muda terhadap pendidikan tinggi. Namun, minat yang tinggi tersebut tidak selalu diikuti oleh komitmen untuk melanjutkan kuliah. Banyak calon mahasiswa yang akhirnya mundur karena berbagai alasan, terutama kendala finansial.

Beban Biaya yang Melebihi UKT

Masalah utama bukan hanya besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang sudah dikelompokkan berdasarkan kemampuan ekonomi keluarga. Realitas di lapangan jauh lebih kompleks.

Calon mahasiswa sering kali dihadapkan pada selisih antara estimasi awal dengan biaya aktual setelah penetapan kelompok UKT. Belum lagi biaya hidup selama kuliah, terutama bagi mereka yang harus merantau.

Pengeluaran untuk kos, makan, transportasi, buku, dan kebutuhan sehari-hari kerap menjadi beban yang lebih berat daripada UKT itu sendiri.

Program bantuan seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah memang ada, tetapi kuotanya terbatas dan proses seleksinya ketat. Tidak semua siswa dari keluarga kurang mampu berhasil mendapatkan bantuan tersebut. Akibatnya, banyak yang terpaksa menyerah meski sudah lolos seleksi bergengsi.

Faktor Sosial dan Psikologis yang Sering Terlupakan

Di balik angka-angka, ada dimensi sosial dan psikologis yang tak kalah penting. Banyak siswa yang tidak mendapat restu orang tua untuk kuliah di luar daerah karena kekhawatiran biaya dan keselamatan.

Tekanan ekonomi keluarga juga mendorong sebagian anak untuk langsung bekerja setelah lulus SMA guna membantu orang tua.Psikolog Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Andhita Dyorita Khoiryasdien, melihat fenomena ini sebagai sinyal perubahan dalam pembentukan identitas generasi muda.

0 Komentar