Sejumlah Relawan SPPG Akui Tercekik Masalah Ekonomi Akibat Pemberhentian Sementara MBG

MBG
MBG
0 Komentar

RADARGARUT– Penghentian operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selama masa libur sekolah telah menimbulkan dampak yang cukup serius bagi para relawan di lapangan.

Di Kabupaten Bandung, khususnya di dapur SPPG Kutawaringin, ratusan relawan dan mitra usaha kecil kini menghadapi kesulitan ekonomi berat setelah kehilangan insentif dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Asisten Lapangan (Aslap) Dapur SPPG Kutawaringin, Restu Risnadi Abdillah, mengungkapkan kondisi memprihatinkan yang dialami anak buahnya.

Baca Juga:Inilah Ganjaran Pahala Luar Biasa dari Puasa Tasua dan Asyura di Bulan MuharramKlaim Segera! 18 Kode Redeem Free Fire (FF) Terbaru, Bertabur Hadiah Gratis dari Garena

Selama ini, para relawan mengandalkan insentif harian dari kegiatan memasak dan pendistribusian makanan bergizi sebagai sumber penghasilan utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ketika Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan operasional dapur seiring libur sekolah, pendapatan mereka pun langsung terhenti.

“Kalau tidak operasional, tidak ada insentif untuk relawan dan mitra. Ini jadi hambatan ekonomi di seluruh aspek. Ada UMKM dan relawan yang kehilangan mata pencarian selama satu bulan ini karena inkonsistensi keputusan BGN,” ujar Restu seusai mengikuti konsolidasi Serikat Pekerja MBG se-Jawa Barat di Jalan Leuwipanjang, Kota Bandung, Senin 22 Juni 2026.

Dampak yang Semakin Berat

Beberapa relawan bahkan dilaporkan mengalami kesulitan memenuhi kewajiban keuangan, seperti cicilan rumah, motor, atau utang lainnya.

Di Kutawaringin, ada kasus relawan yang terancam berhadapan dengan masalah hukum akibat tidak mampu membayar kewajiban tersebut setelah kehilangan pemasukan dari program MBG.

Program MBG yang digagas pemerintah ini awalnya bertujuan memberikan makanan bergizi bagi siswa sekolah, serta kelompok prioritas B3 (Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita).

Namun, penghentian operasional selama libur sekolah dinilai tidak konsisten, terutama karena kelompok B3 yang seharusnya tetap mendapat distribusi malah ikut terdampak.

Baca Juga:Menteri Koordinator Bidang Pangan Akui Kecacatan Program MBG, Siap Lakukan AuditSempat Terima Sejumlah Uang Dari Aparat Kepolisian Agar Tak Realisasikan Demo, Ketua BEM FH UBK Minta Maaf

Restu menekankan bahwa para relawan adalah ujung tombak keberhasilan program MBG di lapangan. Mereka yang memasak, menyiapkan, hingga mendistribusikan makanan setiap hari.

“BGN seharusnya lebih kooperatif dan memihak kepada relawan serta mitra dalam setiap keputusan,” tegasnya.

Ia juga berharap ada ruang dialog yang lebih terbuka sebelum kebijakan diambil, bukan keputusan satu arah yang memberatkan pihak lapangan.

0 Komentar