GARUT – Pemerintah Kabupaten Garut pada 2026 mengalokasikan anggaran sekitar Rp5,6 miliar untuk membantu Anak Tidak Sekolah (ATS) agar bisa kembali mengenyam pendidikan, khususnya di jenjang SD dan SMP. Hal itu disampaikan Anggota DPRD Garut, Yudha Puja Turnawan.
Yudha mengatakan, berdasarkan data dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), jumlah ATS di Kabupaten Garut mencapai 49 ribu anak. Namun, setelah dilakukan rekonsiliasi oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, jumlah anak yang tercatat tidak sekolah berada di angka sekitar 19 ribu anak, baik jenjang SD maupun SMP.
Dari jumlah tersebut, Pemkab Garut berencana memberikan bantuan kepada 5.600 anak tidak sekolah. Setiap anak akan mendapatkan bantuan sekitar Rp1 juta, dengan total anggaran sekitar Rp5,6 miliar.
Baca Juga:Disperindag ESDM Bertahap Revitalisasi Sejumlah Pasar di Garut420 Warga Garut Ikuti Pelatihan Vokasi Agroforestry, Disiapkan Jadi Tenaga Kerja dan Wirausahawan
Meski demikian, Yudha menyebut minat anak untuk kembali bersekolah masih tergolong rendah. Dari target 5.600 anak, hingga saat ini baru sekitar 340 anak yang menyatakan ingin kembali menempuh pendidikan.
“Namun peminatnya sampai saat ini hanya sekitar 340 anak,” sebut Yudha.
Yudha menjelaskan, berdasarkan temuan di lapangan, penyebab anak tidak sekolah tidak selalu karena faktor ekonomi. Dalam banyak kasus, kata dia, anak enggan kembali bersekolah, sementara orang tua kurang tegas dalam mendorong anaknya melanjutkan pendidikan.
“Karena kebanyakan ketika kami ke lapangan anak putus sekolah ini memang anaknya yang malas tidak mau sekolah ditambah orangtua yang tidak tegas,” jelasnya.
Ia juga menyoroti adanya perubahan pola pengasuhan orang tua saat ini dibandingkan dengan generasi sebelumnya, terutama dalam hal ketegasan terhadap pendidikan anak.
“Jadi sekarang sudah ada perubahan kultur, orangtua sudah tidak segalak dan setegas jaman dulu,” imbuhnya.
Kendati demikian, Pemkab Garut bersama dinas terkait terus melakukan sosialisasi ke desa, sekolah, dan lingkungan masyarakat agar anak-anak yang putus sekolah dapat kembali mengenyam pendidikan.
“Kita terus sosialisasikan ke desa, sekolah, lingkungan. Apalagi pak bupati sudah menginstruksikan kepada kepala desa untuk menginvetarisir anak-anak yang putus sekolah,” pungkasnya. (*)
