RADARGARUT– Kenaikan harga oli pelumas bukan sekadar menambah pengeluaran servis kendaraan. Di tengah tekanan ekonomi dan pelemahan rupiah, lonjakan ini semakin mempersempit daya beli masyarakat, terutama bagi jutaan pekerja dan pelaku usaha yang mengandalkan kendaraan sebagai kebutuhan pokok sehari-hari.
Pengamat otomotif dari ITB, Yannes Pasaribu, menyebut bahwa kenaikan harga suku cadang di Indonesia saat ini lebih tajam dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara. Penyebab utamanya adalah ketergantungan impor yang masih sangat tinggi, sehingga fluktuasi nilai tukar rupiah langsung dirasakan konsumen.
“Di Indonesia, ketergantungan impor masih tinggi sehingga dampaknya sangat terasa. Kondisi ini sudah memberatkan pemilik kendaraan, terutama kelompok menengah ke bawah yang menggunakan kendaraan lama karena komponennya lebih rentan mengalami keausan,” ujar Yannes.
Baca Juga:Dulu Jadi Ikon Reformasi Masa Orba, Budiman Sudjatmiko Kini Dicap Penjilat RezimPolres Garut Jemput DPO Kasus Pengeroyokan Di Kalimantan Tengah
Selain ketergantungan impor, oli pelumas sendiri merupakan produk turunan dari minyak bumi yang menjadikannya sebagai salah satu produk paling terdampak dari konflik geopolitik beberapa waktu ke belakang ini.
Kenaikan harga oli asli juga memperlebar selisih dengan produk tiruan. Akibatnya, semakin banyak konsumen yang tergoda mencari alternatif murah. Hal ini justru membuka peluang lebih besar bagi peredaran oli palsu.
“Kenaikan harga menjadi semacam amplifier yang memperbesar praktik pemalsuan. Di tengah tekanan ekonomi, pengguna kendaraan dari kalangan menengah bawah yang bergantung pada kendaraan untuk bekerja menjadi kelompok yang paling rentan,” tambahnya.
Padahal, menggunakan oli palsu atau pelumas berkualitas rendah sangat berbahaya. Oli yang tidak memenuhi standar gagal melumasi mesin dengan baik, sehingga mempercepat gesekan antar komponen. Dampak jangka panjangnya meliputi:
- Penumpukan sludge (endapan kotoran)
- Mesin overheating
- Suara mesin kasar
- Penurunan performa
- Konsumsi bahan bakar lebih boros
- Keausan komponen yang lebih cepat
Kenaikan biaya perawatan ini pada akhirnya menciptakan efek domino yang menggerus daya beli masyarakat. Bagi pengendara motor harian yang mengandalkan kendaraan untuk mencari nafkah, beban ini terasa semakin berat.
Situasi ini menuntut kesadaran lebih tinggi dari konsumen untuk selalu memilih pelumas berkualitas dan menghindari produk murah yang belum terjamin keasliannya.
